UGM Naik 71 Peringkat dalam QS World University Ranking

UGM Naik 71 Peringkat dalam QS World University Ranking

UGM Naik 71 Peringkat dalam QS World University Ranking

UGM Naik 71 Peringkat dalam QS World University Ranking
UGM Naik 71 Peringkat dalam QS World University Ranking

Setelah menempati posisi ke-391 pada pemeringkatan universitas dunia yang dirilis

oleh Quacquarelli Symonds-World University Ranking (QS-WUR) tahun lalu, dalam QS-WUR 2020 yang dirilis bulan ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil menempatkan dirinya pada peringkat ke-320 sebagai universitas terbaik dunia.

Rektor UGM, Prof Panut Mulyono menyatakan, upaya perbaikan proses yang dilakukan UGM terbukti mampu meningkatkan posisi UGM, atau menaikkan 71 peringkat dari tahun sebelumnya.

Hasil pemeringkatan tersebut menempatkan UGM sebagai universitas nomor satu di Indonesia dalam hal reputasi akademik. Panut menuturkan, UGM akan terus melakukan berbagai perbaikan dalam proses dan sistem akademik, agar misi dan mandat yang telah secara konsisten dikerjakan UGM sejak berdirinya dapat semakin diakui, menjadi rujukan dan acuan perubahan, serta memimpin di dunia internasional.

“Pemeringkatan oleh lembaga-lembaga pemeringkat dunia, bukan menjadi tujuan yang dikejar oleh UGM. Meski demikian, peringkat universitas menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendongkrak kepercayaan dunia internasional terhadap UGM,” ujar Rektor, Rabu (19/6/2019).

Untuk itu, UGM tertantang mewujudkan upaya strategis yang sifatnya jangka panjang harus dapat digeser menjadi strategi pencapaian jangka pendek dan menengah.

Kualitas karya-karya akademik UGM, jelasnya, harus ditingkatkan agar dapat menjadi rujukan serta menghasilkan impak yang dapat dirasakan dunia internasional. Sivitas akademika UGM menurut Panut perlu mengukir lebih banyak artefak ilmiah yang kontributif terhadap kemanusiaan.

Impak ini salah satunya dapat diukur dari sitasi karya-karya sivitas akademika UGM oleh masyarakat internasional. Buku, karya seni, desain, dan inovasi UGM yang melimpah perlu dikelola sedemikian rupa agar keterbacaannya meningkat.

“Salah satu indikatornya adalah karya-karya tersebut harus memiliki sitasi yang tinggi,” lanjut Panut.

 

Dikatakan, data yang diolah berdasarkan SciVal (salah satu alat analisis karya akademik) menunjukkan bahwa sitasi per dosen UGM meningkat dari 1,4 di tahun sebelumnya menjadi 1,5 pada tahun ini. Namun demikian, terobosan dan lompatan untuk meningkatkan kualitas karya-karya UGM harus secara konsisten dijalankan.

Di samping itu, peningkatan kepercayaan terhadap UGM juga terlihat dari semakin tingginya proporsi masyarakat internasional yang melakukan kegiatan Tridharma bersama sivitas akademika UGM, salah satunya dengan melakukan studi di UGM.

“Alih-alih mengeluarkan devisa untuk mengirim mahasiswa belajar di luar negeri, akan lebih baik bila pemerintah bersama perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UGM, membangun jejaring pendidikan tinggi yang menarik dunia internasional, baik akademisi, industriawan, dan mahasiswa, untuk berkarya bersama di Indonesia, membangun suasana akademik dengan kualitas yang setara dengan perguruan tinggi di luar negeri,” ujarnya.

Panut mengucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak baik pemerintah, dekan, dosen,

peneliti, Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Dewan Guru Besar maupun pemangku kepentingan lainnya terkait capaian ini.

Kepala Kantor Jaminan Mutu (KJM) UGM, Prof Indra Wijaya Kusuma memaparkan, pemeringkatan ini dilakukan melalui survei terhadap akademisi dunia, pemberi kerja, dan pihak-pihak lain yang terkait. Indikator penilaian bagi perguruan tinggi meliputi reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, rasio mahasiswa dan dosen, jumlah sitasi, jumlah dosen asing, serta jumlah mahasiswa internasional.

 

Sumber :

http://aldirenaldi.blog.institutpendidikan.ac.id/sejarah-ken-sora/