Tokoh Pemikir Barat
tokomodemku Posted on 2:35 pm

Tokoh Pemikir Barat

Tokoh Pemikir Barat

Tokoh Pemikir Barat
Tokoh Pemikir Barat

 

Paul Johnson

jurnalis dan sejarawan Kristen konservatif dalam bukunya Intellectuals telah membongkar perilaku menyimpang para pemikir besar Barat sebagai produk dari epistemologi Barat yang hampa dari agama dan moralitas. Adalah Ernest Hemingway seorang sastrawan yang memeiliki daya serap publik lebih besar dengan karyanya yang bertumpuk-tumpuk, mulai dari Three Stories & Ten Poems karya pertamanya yang banyak penerbit menolaknya sampai akhirnya Old Man and The Sea karyanya yang fenomenal dan karya terakhirnya True At First Light yang lahir di tahun yang sama dengan kematiannya, 1999.

Jutaan orang telah menjadikannya idola, penganut dan pengikutnya. Namun di balik ketenarannya tersebut tersimpan suatu perilaku kedustaan/kebohongan, sikap ateis dalam diri Hamingway. Paul Johnson mendeskripsikan kemampuan Ernest Hemingway dalam berbohong dengan kalimat yang indah. “He thought, and sometimes boasted, that lying was part of his training as a writer. He lied both conciously and without thinking”. Sedangkan menurut kesaksian dari istrinya Hadley sebagaimana yang dikutip Johnson bahwa seumur hidupnya sang sastrawan hanya dua kali ia temui berlutut di depan altar. Pertama, saat mereka menikah. Dan yang kedua, sekaligus yang terakhir, saat anak mereka dibaptis di dalam gereja.

Jean Jacques Rousseau

yang diberi julukan sebagai An Interesting Madman dalam kurun waktu 200 tahun terakhir, menjadi nama besar yang mempengaruhi semua teori pemikiran sekuler dan intelektual modern. Bahkan tidak lepas dari kehidupan berbangsa dan bernegara, sebab teori-teori kenegaraan modern, banyak yang lahir dari pemikirannya. Seperti teori perwakilan politik yang saat ini hampir menjadi model negara di seluruh dunia, bisa dilacak dalam jejak pemikirannya dalam bukunya, Du Contrack Sociale.

Tapi siapa sangka, Rousseau adalah laki-laki gila dalam definisi yang sebenarnya menurut Paul Johnson. Ia laki-laki yang begitu mencintai dirinya, lebih dari apapun. Dalam bahasanya senidiri Rousseau menyebut dirinya amour de soi, natural selfishness. Saking cintanya pada diri sendiri, ia bahkan tak peduli dan membuang semua anak-anaknya ke foundling home, sebutan untuk sebuah rumah penampungan anak-anak yang tidak diketahui orang tuanya. Ini sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur, juga tentang anak-anak, yang ia tulis dalam sebuah buku yang telah menjadi teks klasik, Emile.

Jadi, apa sebenarnya arti intelektual bagi dunia modern, jika para pencetus dan peletak pondasi intelektual, menjadi orang-orang pertama yang mengingkari pemikirannya sendiri ? Bukankah hasil dari pemikiran dan out put dari intelektual adalah proses perbaikan perilaku dan moral ? Apakah mungkin dipisahkan antara konsepsi ideal sebuah pemikiran dengan tata cara hidup para pemikirannya ? Jika demikian, benarlah pepatah tua yang mengatakan hidup ini hanya panggung opera besar yang tak pernah habis ceritanya. Tal layaknya seperti panggung, para pemain kerap kali memiliki peran ganda, bahkan mungkin lebih, dalam hidupnya. Dan masing-masing saling membantah peran lainnya.

Selain nama-nama di atas, masih ada banyak lagi nama besar dalam dunia intelektual yang dikupas tuntas oleh Paul Johnson di antaranya adalah Bertrand Russel yang konon membenci peperangan tapi begitu gandrung memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sangat benci pada Tuhan. Tolstoy yang dikatakan di dalam sebuah artikel yang diberi judul oleh penulisnya, God’s Elder Brother. Bahwa Tolstoy adalah saudara tua Tuhan yang lebih mengerti tentang Tuhan dari pada Tuhan itu sendiri, tapi ia orang yang gagal membina rumah tangga yang wajar.

Penyebab utama dari hal tersebut adalah epistemologi Barat yang berangkat dari praduga-praduga, atau prasangka-prasangka, atau usaha-usaha skeptis tanpa didasarkan pada wahyu. Yang mengakibatkan lahirnya sains-sains yang hampa akan nilai-nilai spiritual dan akhirnya seperti yang disimpulakan oleh al Attas epistemologi Barat tidak dapat mencapai kebenaran, apalagi hakekat kebenaran itu sendiri. Yang kemudian melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang tak bermoral, skeptis dan atheis.

Baca Juga: