Studi Kasus Dakwah Pada Masyarakat Multikultural
tokomodemku Posted on 4:08 am

Studi Kasus Dakwah Pada Masyarakat Multikultural

Studi Kasus Dakwah Pada Masyarakat Multikultural

Studi Kasus Dakwah Pada Masyarakat Multikultural
Studi Kasus Dakwah Pada Masyarakat Multikultural

Keanekaragaman dalam masyarakat

ternyata memunculkan berbagai persoalan bagi bangsa Indonesia. Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya muncul sebagai akibat keanekaragaman etnis, agama, ras, dan adat, seperti konflik antar etnis yang terjadi di Kalimantan Barat.

Salah satu dimensi menonjol dari kemajemukan itu adalah

keragaman etnik atau suku bangsa dengan mengacu pada data di Direktorat Kebudayaan.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, mencatat bahwa di Indonesia saat ini terdapat 525 kelompok etnik. Dalam sejarahnya, kelompok etnis tertentu biasanya mendiami atau tinggal di sebuah pulau, sehingga sebuah pulau di wilayah nusantara seringkali identik dengan etnik tertentu. Pulau Kalimantan,misalnya, identik dengan etnik Dayak (walau di dalamnya terdapat sekian banyak subetnik, dan karena itu konsep Dayak sesungguhnya hanyalah semacam sebutan umum untuk penduduk asli Kalimantan) Meskipun begitu, hubungan antara etnis yang satu dengan etnis yang lain telah berlangsung cukup lama seiring dengan terjadinya mobilitas penduduk antarpulau, kendati pun masih terbatas antarpulau tertentu yang letak wilayahnya strategis untuk urusan perniagaan.

Ketika kepulauan nusantara menjadi suatu bagian yang integral dalam perdagangan Asia,keterlibatan dalam perdagangan rempah-rempah meningkatkan mobilitas antar pulau di kalangan penduduk nusantara. Dalam perkembangannya, seiring dengan meningkatnya hubungan dagang serta berbagai kontak antaretnik lainnya, muncul pula perkampungan-perkampungan etnis tertentu di sebuah pulau untuk kemudian hidup mengelompok dan membaur. Masing masing etnis tersebut memiliki karakterisktik kebudayaan yang spesifik dari daerah asalnya yang umumnya masih dipegang dengan kuat.

Baca Juga: Mukadimah

Dalam kehidupan sosial

tentu saja terjadi interaksi atau saling hubungan antaretnik, sehingga dapat saling mempengaruhi antara satu etnik dengan etnik lainnya.Di Kalimantan Tengah (Kalteng),misalnya, selain etnis Dayak (dengan berbagai sub etnis dan atau percabangan suku bangsa di dalamnya) yang merupakan penduduk asli, terdapat pula berbagai etnis lain dari luar Kalimantan seperti etnis Jawa, Madura, Bugis,Melayu, Sumatera, Bali, dan sebagainya. Dalam sejarah masyarakat dan masalah etnisitas di Kalteng,sebenarnya hubungan antaretnis berlangsung dengan baik. Etnik yang satu dengan etnik lain terjadi pembauran yang wajar dan saling menghargai. Bahkan perkawinan antaretnik pun sudah biasa dijumpai dalam kehidupan masyarakat diKalteng. Akan tetapi, khusus hubungan antara etnik Dayak dengan Madura ada kecenderungan memperlihatkan sesuatu yang lain yang berbeda dibandingkan dengan hubungan antara etnik Dayak dengan etnik-etnik lainnya. Dengan kata lain, antara kedua etnik (Dayak-Madura)menyimpan stereotip etnik budaya yang justru cenderung saling merenggangkan hubungan sosial antara keduanya.

Sebagai unit sosial dari sebuah masyarakat majemuk, kelompok etnik tidak jarang muncul sebagai sebuah masalah tersendiri..Dalam kenyataan, hubungan antar etnik tidak selalu berjalan mulus dan tidak selalu terjadi kerjasama yang baik. Ada kalanya mereka berbenturan (konflik) karena berbagai sebab, baik bersifat sepele maupun yang serius. Menurut Soemardjan (2001), di mana ada dua atau beberapa suku hidup sebagai tetangga dekat maka karena kebudayaannya yang berbeda selama hubungan antara mereka itu tidak dapat dihindarkan tumbuh nya bibit-bibit konflik sosial atau konflik budaya.

Konflik sosial

terutama konflik etnik, pada umumnya dapat terjadi kalau salah satu pihak merasakan sesuatu yang tidak adil baginya. Suku tetangga mungkin menduduki posisi yang dominan (unggul) terhadap suku“lawannya”. Hal ini dapat terjadi dibidang ekonomi,sosial,politik,pemerintahan,pendidikan, dan sebagainya Fenomena yang disebutkan terakhir itulah yang terjadi di beberapa daerah di Kalimantan. Di pedalaman Kalimantan Barat (Kalbar),misalnya, seperti ditunjukkan penelitian Alqadrie (1990), di mana ada dua bentuk kesadaran etnik pada masyarakat tersebut yakni“konflik” dan “penolakan terhadap beberapa kegiatan ekonomi”, dan mesianisme”. Konflik antara kelompok etnik Dayak dan Madura sudah terjadi berulang kali yakni pada tahun 1968, 1969, dan 1986.Kemudian meledak kembali pada 1999 dengan menelan korban yang cukup banyak, di samping banyak pula yang harus menjadi pengungsi. Di Kalteng, meledak pula konflik antara etnik Dayak dan etnik Madura pada awal 2001.