Siswi SMA 70 Bulungan Dianiaya Senior

Siswi SMA 70 Bulungan Dianiaya Senior

Siswi SMA 70 Bulungan Dianiaya Senior

Siswi SMA 70 Bulungan Dianiaya Senior
Siswi SMA 70 Bulungan Dianiaya Senior

 

Hanya gara-gara tidak memakai singlet (kaos dalam)

siswi kelas 1 SMA 70 Bulungan, Novia Yuma Shanti (Vhia) diintimidasi oleh 3 seniornya yang duduk di bangku kelas 3 SMA. Bahkan, Vhia sempat mendapat kekerasan dari seniornya itu.

“Kejadiannya Rabu kemarin sekitar pukul 12.30 WIB, pas saya ke kantin,” kata Vhia, Jumat (2/4/2010).

Saat itu, Vhia dan dua temannya menuju ke kantin untuk makan siang. Tiba-tiba, 3 seniornya bernama Dinar Amanda Trianti, Euodia Josephine Romauli, Arvie Amanda Lubis, yang merupakan anggota cheers dance itu menghampiri Vhia yang berada di pojokan kantin sekolah tersebut. Euodia kemudian menghardiknya dengan ketus.

 

“Eh, kenapa kamu nggak pake singlet? Bra kamu kelihatan tuh,” kata Vhia menirukan Euodia.

Vhia kemudian mencoba menjelaskan alasannya kenapa tidak memakai singlet ke seniornya. “Aku nggak pakai singlet karena masih basah, baru dicuci. Dan Bra aku pun warnanya tidak mencolok,” katanya.

Aturan memakai singlet sendiri, kata Vhia, tidak dikeluarkan oleh pihak sekolah. Aturan itu ditetapkan oleh senior saat juniornya menjalani Masa Orientasi Sekolah (MOS) hingga berlanjut ke kelas dua. Semasa MOS, para senior SMA 70 memang menerapkan aturan bagi junior-juniornya. Diantaranya rambut tidak boleh di gerai, baju dan rok harus longgar, tas harus ransel dan sepatu harus berjenis kets.

 

“Pokoknya kita-kita yang masih kelas 1 terlihat jelek-jeleklah,” imbuhnya.

Tidak puas dengan jawaban Vhia, Euodia kemudian menyuruh Vhia untuk menunduk. Tidak sampai di situ, kepala bagian belakang Vhia dipukul dengan telapak tangan Euodia sambil terus memarahi Vhia. Euodia kemudian mencubit bahu Vhia.

“Terus saya disuruh nggak boleh pakai Bra atau pun singlet selama satu tahun,” urainya.

Bahkan, lengan kanan atas Vhia dicengkeram dengan kuat hingga lebam. Euodia kemudian menyuruh Vhia jongkok.

“Terus pas jongkok, perut saya ditendang sama Kak Dinar. Saya lalu nangis,” katanya.

Malah, Euodia sempat mau melempar Vhia dengan gelas. “Tapi dicegah sama Kak Mirza,” ucapnya.

Karena takut, Vhia dan teman-temannya tidak bisa berbuat apa-apa. Beruntung, selang beberapa menit kemudian seorang guru, Irma lewat di depan mereka.

 

“Bu Irma melihat saya menangis.

Dia juga sempat tanya kenapa saya menangis. Lalu dijawab sama mereka, nggak kok bu, nggak ada apa-apa, cuma lagi ngobrol,” bebernya.

Setelah Irma pergi, Vhia bergegas pergi meninggalkan senior-seniornya itu. “Lalu saya melapor ke Pak Amril, bagian Tata Usaha (TU),” ucapnya.

Hingga jam pelajaran usai, Vhia tidak berani kembali ke kelasnya. Vhia memilih berdiam di ruang TU saking takut bertemu lagi dengan seniornya yang jahat itu.

“Tas saya pun diambilin ke atas (kelas) sama Pak Amril,” ucap atlet nasional Polo Air ini.

Sementara itu, Ibunda Vhia, Rima tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. “Saya saja yang menghidupinya tidak pernah saya pukulin,” kata Rima.

Dalam laporan resmi bernomor TBL/1093/IV/2010/PMJ/Dit Reskrimum, Vhia melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Dinar Amanda Trianti, Euodia Josephine Romauli, Arvie Amanda Lubis. Ketiga terlapor dituntut dengan Pasal 80 Undang-Undang  No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Saya menuntut agar pihak sekolah mengeluarkan mereka biar tidak terjadi lagi hal-hal seperti ini,” katanya.

Bahkan, Vhia kini hampir trauma dan tidak mau pergi ke sekolahnya karena takut. “Anak saya takut diculik sama mereka kalau pas pulang sekolah,” tandasnya.

Baca Juga :