Rumus bunga
tokomodemku Posted on 2:25 pm

Rumus bunga

Rumus bunga

Rumus bunga
Rumus bunga

Rumus bunga

hanya dapat ditunjukkan hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga sebagai berikut :
1. Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan kata kalix (calyx), yang merupakan istilah ilmiah untuk kelpoak.
2. Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C, singkatan dari corolla (istillah ilmiah untuk mahkota bunga).
3. Benang-benang sari, yang dinyatakan dengan huruf A singkatan kata androcium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga).
4. Putik, yang dinyatakan huruf G, singkatan kata gynaecium (istilah ilmiah untuk alat betina pada bunga).

Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaitu huruf P, singkatan dari kata Perigonium (tenda bunga).
Didepan rumus hendaknya diberi tanda yang menunjukkan simetri bunga, biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri, yaitu : * untuk bunga bersimetri banyak (actinomorphus), misalnya pada lilia gereja : * P6. A 6. G 3 dan tanda ↑ untuk bunga yang bersimetri satu (zygomorphus), misalnya pada bunga merak : ↑ K 5. A 5. A 10. G 1.

Selain lambang yang menunjukkan simetri, pada rumus bunga dapat pula ditambahkan lambang yang menunjukkan kelamin bunga. Untuk bunga banci (hermaphroditus) dipakai lambang : . Untuk bunga jantan dipakai lambang : . Dan untuk bunga betina dipakai lambang : . Lambang jenis kelamin ditempatkan didepan lambang simetri. Suatu bagian bunga dapat tersusun dalam lebih daripada satu lingkaran jika terjadi hal demikian maka digunakan lambang + dan diletakkan di dua angka yang menunjukkan bagian bunga yang tersusun dalam dua lingkaran atau lebih tadi. Jika bagian-bagian bunga yang tersusun dalam masing-masing lingkaran berlekatan satu sama lain, maka yang menunjukkan jumlah bagian bersangkutan ditaruh dalam kurung ( ).

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/bagian-bagian-bunga/

Penjelasan

Jika ada dua bagian bunga yang berbeda (misalnya benang sari dan mahkota) saling berlekatan satu sama lain, dalam keadaan yang demikian maka kedua huruf beserta angka yang dmenunjukkan kedua bagian bunga yang berlekatan tadi ditaruh didalam kurung kurawal [ ]. Jika bagian bunga tidak dapat diketahui jumlahnya karena terlalu banyak maka di tulis dengan lambang ∞. Adapun lambang yang digunakan untuk menyatakan duduknya bakal buah, jika bakal buahnya tenggelam maka pada angka yang menunjukkan jumlah dari putik diberi garis bawah, contoh G1. Apabila bakal buahnya sejajar tidak ada tanda khusus, dan jika bakal buahnya lebih tinggi maka pada angka yang menunjukkan jumlah putik diberi garis di atas angka tersebut. Karena urutan bagian bunga yang sifatnya tetap maka bisa saja beberapa lambang dalam rumus bunga dapat di hilangkan misalnya lambang untuk menunjukkan jenis kelamin jantan, betina dan banci, karena jenis kelamin dari bunga jug dapat dilihat pada ada atau tidaknya benang sari dan putik dalam satu bunga, jika keduanya ada maka bunga tersebut adalah bunga banci.

Tetapi jika dibelakang A ditulis 0 berarti bunganya betina, sebaliknya jika dalam rumus tertera G 0, berarti bunganya adalah bunga jantan.

Contoh

Berikut beberapa contoh dari diagram dan rumus bunga dari beberapa spesies tanaman :
1. Suku Plamae (Araceae), misalnya pada kelapa.
K 3. C 3. A (6). G 0
K 3. C 3. A 0, G (3)
2. Suku Graminae (Poaceae), misalnya padi.
↑ K 1. + (2). C 2 + 0, A 3, G 1
3. Suku Malvaceae, misalnya kapas.
* K (5). [C 5. A (∞)]. G (5)
Dan masih banyak lagi rumus-rumus bunga lainnya, yang dapat menunjukkan ciri khasnya masing-masing.