Perkembangan Pemikiran Islam tentang Pluralisme

Perkembangan Pemikiran Islam tentang Pluralisme

Perkembangan Pemikiran Islam tentang Pluralisme

Perkembangan Pemikiran Islam tentang Pluralisme
Perkembangan Pemikiran Islam tentang Pluralisme

DEFINISI PLURALISME

Tidak ada rumusan yang tunggal tentang makna pluralisme, karenanya terminologi ini menjadi longgar untuk ditarik ke wilayah manapun. Sebagian pendapat memandang bahwa pluralisme merupakan terminologi yang terambil dari ranah Sosiologis, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa terminologi ini terambil dari ranah filsafat. Terlepas dari perbedaan keduanya, satu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pluralisme merupakan terminologi untuk menunjukkan paham kemajemukan.

Dalam Wikipedia berbahasa Inggris disebutkan “In the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation”. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa pluralisme dalam ilmu sosial merupakan konsep pemahaman tentang kehidupan majemuk (plural) yang harus ditata sedemikian rupa untuk menciptakan suasana saling menghargai dan menghormati guna menghindari konflik.

Dalam wacana yang berkembang berikutnya, pluralisme ternyata tidak saja menyentuh ranah filsafat dan sosiologi, akan tetapi pembahasannya juga turut menyentuh wilayah teologi. Pluralisme Agama (Religious Pluralism) adalah istilah khusus dalam kajian agama­agama. Sebagai ‘terminologi khusus’, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan makna istilah ‘toleransi’, ‘saling menghormati’ (mutual respect), dan sebagainya. Sebagai satu paham (isme), yang membahas cara pandang terhadap agama­agama yang ada, istilah ‘Pluralisme Agama’ telah menjadi pembahasan panjang di kalangan para ilmuwan dalam studi agama­agama (religious studies).

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

SEJARAH PENYEBARAN PLURALISME

Paham ini telah menyerbu semua agama. Klaim­klaim kebenaran mutlak atas masing­masing agama diruntuhkan, karena berbagai sebab dan alasan. Di kalangan Yahudi, misalnya, muncul nama Moses Mendelsohn (1729­1786), yang menggugat kebenaran eksklusif agama Yahudi. Menurut ajaran agama Yahudi, kata Mendelsohn, seluruh penduduk bumi mempunyai hak yang sah atas keselamatan, dan sarana untuk mencapai keselamatan itu tersebar sama luas bukan hanya melalui agama Yahudi seperti umat manusia itu sendiri. Frans Rosenzweig, tokoh Yahudi lainnya, menyatakan, bahwa agama yang benar adalah Yahudi dan Kristen. Islam adalah suatu tiruan dari agama Kristen dan agama Yahudi.

Salah satu teolog Kristen yang terkenal sebagai pengusung paham ini, Ernst Troeltsch, mengemukakan tiga sikap populer terhadap agama­agama, yaitu (1) semua agama adalah relatif. (2) Semua agama, secara esensial adalah sama. (3) Semua agama memiliki asal­usul psikologis yang umum. Yang dimaksud dengan “relatif”, ialah bahwa semua agama adalah relatif, terbatas, tidak sempurna, dan merupakan satu proses pencarian. Karena itu, kekristenan adalah agama terbaik untuk orang Kristen, Hindu adalah terbaik untuk orang Hindu. Motto kaum Pluralis ialah: “pada intinya, semua agama adalah sama, jalan­jalan yang berbeda yang membawa ke tujuan yang sama. (Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal).”

Dalam tradisi Kristen, dikenal ada tiga cara pendekatan atau cara pandang teologis terhadap agama lain. Pertama, eksklusivisme, yang memandang hanya orang­orang yang mendengar dan menerima Bibel Kristen yang akan diselamatkan. Di luar itu tidak selamat. Kedua, inklusivisme, yang berpandangan, meskipun Kristen merupakan agama yang benar, tetapi keselamatan juga mungkin terdapat pada agama lain. Ketiga, pluralisme, yang memandang semua agama adalah jalan yang sama­sama sah menuju inti dari realitas agama. Dalam pandangan Pluralisme Agama, tidak ada agama yang dipandang lebih superior dari agama lainnya. Semuanya dianggap sebagai jalan yang sama­sama sah menuju Tuhan (all the religious traditions of humanity are equally valid paths to the same core of religious reality. In pluralism, no one religion is superior to any other; the many religions are considered equally valid ways to know God).

John Hick – salah satu tokoh utama kristen paham religious pluralism ­­ mengajukan gagasan pluralisme sebagai pengembangan dari inklusivisme. Bahwa, agama adalah jalan yang berbeda­beda menuju pada tujuan (the Ultimate) yang sama. Ia mengutip Jalaluddin Rumi yang menyatakan: “The lamps are different but the light is the same; it comes from beyond.” Menurut Hick, “the Real” yang merupakan “the final object of religious concern”, adalah merupakan konsep universal. Di Barat, kadang digunakan istilah “ultimate reality”; dalam istilah Sansekerta dikenal dengan “sat”; dalam Islam dikenal istilah al­haqq.

Pluralisme Agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen­Barat disebabkan setidaknya oleh tiga hal: yaitu (1) trauma sejarah kekuasaan Gereja di Zaman Pertengahan dan konflik Katolik­Protestan, (2) Problema teologis Kristen dan (3) problema Teks Bibel. Ketika Gereja berkuasa di zaman pertengahan, para tokohnya telah melakukan banyak kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya menimbulkan sikap trauma masyarakat Barat terhadap klaim kebenaran satu agama tertentu. Problema yang menimpa masyarakat Kristen Barat ini kemudian diadopsi oleh sebagian kalangan Muslim yang ‘terpesona’ oleh Barat atau memandang bahwa hanya dengan mengikuti peradaban Baratlah maka kaum Muslim akan maju. Termasuk dalam hal cara pandang terhadap agama­agama lain, banyak yang kemudian menjiplak begitu saja, cara pandang kaum Iklusifis dan Pluralis Kristen dalam memandang agama­agama lain. Di Indonesia, penyebaran paham ini sudah sangat meluas, baik dalam tataran wacana publik maupun buku­buku di perguruan tinggi