Peralatan dan Perlengkapan Hidup

Peralatan dan Perlengkapan Hidup

Peralatan dan Perlengkapan Hidup

Peralatan dan Perlengkapan Hidup
Peralatan dan Perlengkapan Hidup

Hasil karya manusia melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama melindungi masyarakat dari lingkungannya. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul sebagai cara-cara manusia untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, sebagai cara-cara manusia untuk mengorganisasikan masyarakat, serta sebagai cara-cara manusia untuk mengekspresikan rasa keindahan.

Teknologi pada hakikatnya meliputi tujuh unsur berikut ini.
Alat-Alat Produksi
Yang dimaksud dengan alat-alat produksi adalah alat-alat yang berfungsi untuk melaksanakan suatu pekerjaan produktif. Contoh alat produksi adalah jala ikan, alat penenun kain, alat pemintal benang, cangkul, bajak, mesin percetakan, robot, dan kendaraan. Alat-alat digunakan oleh manusia untuk membantunya dalam menghasilkan sesuatu yang ia perlukan bagi kehidupan. Sebagai contoh, jala ikan dipakai para nelayan untuk menangkap ikan di laut. Hasil tangkapan ini akan dijual sehingga menghasilkan pendapatan baginya. Bentuk dan bahan pembuatan alat-alat ini sangat tergantung pada jenis pekerjaannya. Ada yang terbuat dari benang, kayu, atau besi. Ada yang digerakan dengan mesin. Ada pula yang digerakan dengan tenaga manusia atau hewan.

Senjata
Dalam masyarakat tradisonal, selain digunakan untuk membela diri dari ancaman kelompok lain dan binatang buas, senjata juga dipergunakan untuk berburu dan memperoleh makanan. Dalam hal ini senjata berfungsi sebagai alat produktif. Dalam masyarakat modern, senjata tidak lagi digunakan untuk mencari makanan tetapi lebih sebagai alat membela diri dan olahraga.

Wadah
Wadah adalah alat atau piranti yang berfungsi untuk menampung, menimbun, dan menyimpan barang-barang. Contoh wadah adalah periuk, piring, guci, dan teko. Wadah dapat dibuat dari bambu, kayu, kulit, serat, tanah, batu, kaca, dan logam. Setiap masyarakat dengan berbagai tingkat peradaban telah mengenal teknologi pembuatan wadah. Zaman dahulu, masyarakat mengenal pembuatan wadah yang disebut tembikar dari bahan tanah liat. Saat ini, wadah dapat dibuat dari berbagai macam bahan sesuai dengan fungsinya.

Makanan dan Minuman
Makanan dan minuman merupakan barang konsumsi. Makanan dapat dikelompokkan atas buah-buahan, akar-akaran, biji-bijian, daging, dan ikan. Namun saat ini terdapat pula berbagai jenis makanan yang dibuat dari bahan tertentu, misalnya tepung. Tepung dapat diolah menjadi mie, biskuit, dan roti.

Di setiap masyarakat ditemukan cara-cara mengolah makanan yang bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis teknologi yang dikuasai oleh masyarakat setempat. Pada masyarakat tradisional, pengolahan makanan dilakukan dengan dibakar atau dipanaskan di atas tungku api. Bahan makanan yang biasanya dibakar adalah daging dan umbi-umbian. Saat ini, di berbagai toko atau supermarket dapat kita temukan makanan-makanan yang tidak lagi perlu diolah, misalnya permen dan biskuit.

Pakaian dan Perhiasan
Bahan pakaian yang kita kenal sejak dahulu dapat berupa dedaunan, kulit pohon, kulit hewan, hingga bahan-bahan yang ditenun atau dirajut dengan teknologi tertentu. Pembuatan pakaian umumnya dilakukan dengan cara memintal, menenun, atau dengan menggunakan teknologi mesin seperti yang ada di pabrik-pabrik pakaian.

Berdasarkan fungsinya, pakaian dibedakan atas pakaian yang semata-mata untuk menahan pengaruh iklim, pakaian sebagai lambang keunggulan dan gengsi, pakaian sebagai lambang kesucian, dan pakaian sebagai perhiasan badan (mode). Di Indonesia, setiap suku bangsa umumnya mengembangkan corak pakaiannya yang disesuaikan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Masyarakat Jawa misalnya, memiliki pakaian daerah yang disebut kebaya dan batik. Suku bangsa Manggarai memiliki pakaian daerah yang disebut songke dan bali belo.

Selain pakaian sebagai perlengkapan busana, manusia mengenal berbagai perhiasan seperti gelang, kalung, bando, sabuk pinggang, cincin, dan sepatu. Perhiasan-perhiasan ini terbuat dari bahan yang beragam. Ada yang terbuat dari bahan alumunium, emas, kuningan, tembaga, besi, karet, plastik, manik-manik, bahkan kerangka hewan, seperti siput dan kerang.

Sama seperti pakaian, perhiasan umumnya menjadi tanda status sosial seseorang. Pada zaman dulu, orang yang menggunakan perhiasan dari emas yang melingkar hampir di seluruh tubuhnya menunjukkan kalau ia berasal dari kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan. Pada saat ini, semakin mahal dan bermerek perhiasan seseorang, semakin tinggi pula kelas sosial orang yang mengenakannya.

Tempat Berlindung dan Perumahan
Wujud kebudayaan yang paling menonjol pada masyarakat hingga sekarang ini adalah tempat berlindung atau perumahan. Pada masyarakat tradisional, tempat berlindung atau rumah umumnya berupa gua-gua tanah atau batu. Ada pula rumah yang terbuat dari dedaunan, akar dan kulit-kulit kayu atau tanah liat. Pada masyarakat ini, ukuran dan model rumah tidak diperhatikan.

Di beberapa tempat bersalju abadi, penduduk membuat rumah dari balok-balok es, tulang-tulang, dan kulit hewan. Di daerah-daerah peternakan di kawasan padang rumput, rumah terbuat dari ranting-ranting kayu dan kulit hewan yang dikeringkan. Pada masyarakat modern, perumahan dibangun dengan ukuran, bentuk dan bahan-bahan yang bervariasi. Pada umumnya, rumah dibuat dari bahan dasar batu, pasir dan tanah liat atau semen, serta besi.

Ada tiga macam bentuk pokok dari rumah manusia, yaitu rumah yang setengah di bawah tanah, rumah di atas tanah, dan rumah di atas tiang-tiang (rumah panggung). Berdasarkan pemakaiannya, rumah dibedakan menjadi rumah tempat tinggal keluarga kecil, rumah tempat tinggal keluarga besar, rumah suci, rumah pemujaan, rumah tempat berkumpul umum, dan rumah untuk pertahanan atau benteng.

Di Indonesia, setiap suku bangsa umumnya memiliki bentuk atau corak rumah yang berbeda-beda. Hal ini biasanya disesuaikan dengan adat dan kebiasaan hidup masyarakatnya. Sebagai contoh, rumah adat suku bangsa Manggarai di Flores berbentuk panggung. Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakatnya yang memelihara ternak di bawah rumahnya.

Sumber : https://forbeslux.co.id/