Penulisan Hadits pada Masa Rasulullah SAW

Penulisan Hadits pada Masa Rasulullah SAW

Penulisan Hadits pada Masa Rasulullah SAW

Penulisan Hadits pada Masa Rasulullah SAW
Penulisan Hadits pada Masa Rasulullah SAW

Kegiatan baca-tulis sebenarnya sudah dikenal bangsa Arab sejak masa Jahiliyah, walaupun sifatnya belum menyeluruh. Setelah Islam datang, kegiatan membaca dan menulis ini semakin lebih digiatkan dan digalakkan, hal ini terutama adalah karena di antara tuntutan yang pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui wahyu-Nya adalah perintah membaca dan belajar menulis (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5). Terlebih lagi bahwa risalah nabawiyah (misi kenabian) yang dibawa Rasul SAW menghendaki adanya orang-orang yang bisa membaca dan menulis, seperti sebagai penulis wahyu (Al-Qur’an), dan demikian juga halnya dengan permasalahan pemerintahan, seperti kegiatan surat-menyurat, dan pembuatan akad perjanjian, setelah Rasul SAW membangun pemerintahan di Madinah, yang kesemuanya itu memerlukan adanya juru tulis.

Pada dasarnya pada masa Rasul SAW sudah banyak umat Islam yang bisa membaca dan menulis. Bahkan Rasul SAW sendiri mempunyai sekitar 40 orang penulis wahyu di samping penulis-penulis untuk urusan lainnya. (M. Ajjaj Al Khatib, Ushul al Hadits, h. 142). Oleh karenanya, argumen yang menyatakan kurangnya jumlah umat Islam yang bisa baca tulis adalah penyebab tidak dituliskannya Hadits secara resmi pada masa Rasul SAW, adalah kurang tepat, karena ternyata, berdasarkan keterangan di atas terlihat bahwa, telah banyak umat Islam pada saat itu yang mampu membaca dan menulis. Meskipun demikian, kenyataannya, pada masa Rasul SAW keadaan Hadits, berbeda dengan Al-Qur’an, belumlah ditulis secara resmi.

Mengapa Hadits tidak atau belum ditulis secara resmi pada masa Rasul SAW, terdapat berbagai keterangan dan argumentasi yang kadang-kadang satu dengan yang lainnya saling bertentangan. Di antaranya ditemukan hadits-hadits yang sebagiannya membenarkan atau bahkan mendorong untuk melakukan penulisan Hadits Nabi SAW, di samping ada hadits-hadits lain yang melarang melakukan penulisannya. Untuk memahami keterangan yang saling berlawanan mengenai penulisan Hadits Nabi SAW, berikut ini dikutipkan hadits-hadits yang berkaitan dengan penulisan Hadits tersebut.

Larangan Menuliskan Hadits

Terdapat sejumlah Hadits Nabi SAW yang melarang para Sahabat menuliskan hadits-hadits yang mereka dengar atau peroleh dari Nabi SAW. Hadits-Hadits tersebut adalah:

larangan menulis hadits 1

Dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasanya Rasul SAW bersabda, “Janganlah kamu menuliskan sesuatu dariku, dan siapa yang menuliskan sesuatu dariku selain Al- Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya.” (HR Muslim).(Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahih Muslim; Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M, juz 2. h. 710; Id. Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim; Mesir: Al-Maktabah al-Mishriyyah 1347 H, jilid 18, h. 129)

larangan menulis hadits 2

Abu Hurairah berkata, “Nabi SAW suatu hari keluar dan mendapati kami sedang menuliskan Hadits-Hadits, maka Rasulullah SAW bertanya, ‘Apakah yang kamu tuliskan ini?'” Kami menjawab, “Hadits-Hadits yang kami dengar dari engkau ya Rasulallah.” Rasul SAW berkata, “Apakah itu kitab selain Kitab Allah (Al-Qur’an)? Tahukah kamu, tidaklah sesat umat yang terdahulu kecuali karena mereka menulis kitab selain Kitab Allah”. (HR Khatib),(Al-Khathib al-Baghdadi, Taqyid al-‘llm; Damaskus: t.p , 1949), h. 34; ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 147; Id. Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, h. 303).

larangan menulis hadits 3

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Kami telah berusaha dengan sungguh meminta izin untuk menulis (Hadits), namun Nabi SAW enggan (memberi izin).” Pada riwayat lain, dari Abu Sa’id al-Khudri juga, dia berkata, “Kami meminta izin kepada Rasul SAW untuk menulis (Hadits), namun Rasul SAW tidak mengizinkan kami.” (HR Khatib dan Darami). (Al-Qadhi al-Hasan ibn Abd al-Rahman al-Ramuharmuzi’, Al-Muhaddits al-Fashil Bayn al- Rawi wa al-Wa’i, Ed. M. ‘Ajjaj al-Khathib; Beirut: Dar al-Fikr, cet. ke-2, 1404 H/1984 M, h. 379. Id. Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 147; Id Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, h. 303.)

Kesimpulan

Dari ketiga riwayat di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW melarang para Sahabat menuliskan hadits-hadits beliau, dan bahkan beliau memerintahkan untuk menghapus hadits-hadits yang telah sempat dituliskan oleh para sahabat. Berdasarkan riwayat-riwayat seperti di atas, maka muncul di kalangan para Ulama pendapat yang menyatakan bahwa menuliskan Hadits Rasul SAW adalah dilarang. Bahkan di kalangan para Sahabat sendiri terdapat sejumlah nama yang, menurut Al-Khathib al-Baghdadi, meyakini akan larangan penulisan Hadits tersebut. Mereka di antaranya adalah Abu Sa’id al-Khudri, Abd Allah ibn Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abd Allah ibn Abbas, dan Abd Allah ibn Umar. (M.M. Azami, Studies in Early Hadith Literature: Indianapolis, Indiana: American Trust Pub-lications, 1978, h. 21; Bandingkan Ibn Al-Shalah, ‘Ulum al-Hadits, h. 160).

Al-Baghdadi, sebagaimana yang dikutip oleh Azami, juga menuliskan sejumlah nama para Tabi’in yang diduga menentang penulisan Hadits, yaitu Al-Amasy, ‘Abidah, Abu al-‘Aliyah, ‘Amr ibn Dinar, Al-Dhahhak, Ibrahim al-Nakha’i, dan lain-lain. (Azami, Studies in Early Hadith Literature, h. 21.)

Demikian uraian tentang penulisan hadits pada masa nabi SAW , semoga berrmanfaat. Amiin.

Baca Juga: