tokomodemku Posted on 1:40 pm

PENJELASAN QIYAS

PENJELASAN QIYAS

PENJELASAN QIYASS

A.Pengertian

Qiyas menurut bahasa berarti menyamakan sesuatu, sedangkan menurut ahli ushul fiqh adalah menpersamakan huhum suatau peristiwa yang tidak ada nash hukumnya ’ dengan suatu peristiwa yang ada nash hukumnya, karena persamaan keduanya itu dalam illat hukumnya.

B. Rukun qiyas

1. Al-Asl, adalah malasalah yang telah ada hukumnya, bedasarkan nas, ia disebut al Maqis ’alaih ( yang diqiyaskan kepadanya ), Mahmul ’alaih( yang dijadikan pertangungan ) musyabbah bih ( yang diserupakan denganya).
2. Al Far’u, adalah masalah baru yang tidak ada nashnya atau tidak ada hukumnya, ia disebut Maqis ( yang diqiyaskan), AlMahmul) ( yang dipertanguhngkan) dan al musyabbah ( yang diserupakan ).
3. Hukum Asl yaitu hukum yang telah ada pad asl (pokok) yang berdasarkan atas nash atau ijma’, ia dimaksudkan untuk menjadi hukum pad al far’u( cabang).
4. Al Illat adalah suatu sifat yangada pada asl yaang padanya lah dijadikan sebagai dasr untuk menentuan hukum pokok, dan berdasarkan ada nya keberadaanya sifat itu pada cabang (far), maka ia disamakan dengan pokoknya dari segi hukum.
Syarat-syarat i’llat
a. Illat itu adalah sifat yang jelas, yang dapat dicapai oleh panca indra.
b. Merupaka sifat yang tegas dan tidak elastis yakani dapat dipastiakan berwujudnya pada furu’ dan tidak mudah berubah.
c. Merupakan sifat yang munasabah , yakni ada persesuian antara hukum da sifatnya.
d. Merupakan sifat yang tidak terbatsas pada aslnya , tapi bisa juaga berwujud pad beberapa satuan hukum yang bukan asl.

Berkaitan dengan kehujjahan qiyas ini, terdapat tiga kelompok ulama’ yang berbeda pendapat dalam memandang eksistensi qiyas dan kehujjahannya sebagai dalil hukum islam.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

1. Kelompok mutsbit al qiyas (pendukung qiyas)

Kelompok pertama berpendapat bahwa qiyas adalah adalah dalil hukum islam. Menurut Sya’ban, kelompok pertama ini mengatakan bahwa para fuqaha telah sepakat dimana qiyas merupakan salah satu pokok atau dasar tasyri’ dan dalil hukum islam. Pandangan kelompok pertama ini melahirkan sikap dan dianut oleh mayoritas ulama’ bahwa qiyas adalah dalil hukum dan karenanya ia menjadi hujjah syar’iyyah. Argumentasi mereka adalah Al qur’an, sunnah praktek sahabat dan logika.

2. Kelompok nufat al qiyas (penolak qiyas)

Kelompok ini terdiri dari al Nizzam dan pengikutnya dari kalangan Mu’tazilah, Daud al Zahiri, Ibnu Hazm, dan sebagian kelompok syi’ah. Ibnu Hazm menyatakan dengan tegas penolakannya berhujjah dengan ra’yu dan hanya berhujjah dengan sunnah dengan memperhatikan makna lahirnya saja. Menurutnya, karena qiyas adalah bagian dari berpijak pada ra’yu, maka yang demikian tidak dapat diterima sebagai dalil dan hujjah.

3. Pandangan al Ghazali dan ulama’ kontemporer

Kelompok ketiga ini adalah kelompok yang berlawanan dengan kedua kelompok di atas. Kelompok ketiga ini kelihatannya ingin mendudukan qiyas pada posisi dalam hukum islam. Al Ghazali misalnya,mengatakan bahwa qiyas adalah sebuah cara dalam menghasilkan hukum dari penalaran teks nash melalui analogi. Pernyataan Al Ghazali ini memberikan indikasi bahwa qiyas bukanlah dalil hukum. Lebih jelas lagi, dalam kitab al Mushtafa, al Ghazali memang tidak memasukkan qiyas dalam tertib urutan dalil sebagaimana terlihat di kalangan mayoritas ulama’ mahzab. Bagi al Ghazali, yang termasuk dalil hukum adalah al Qur’an, sunnah, ijma’,istishab,qaul shababi,istihsan dan istishlah. Empat yang disebutkan terakhir dinyatakan al Ghazali sebagai dalil akal.

Di sisi lain, qiyas ditempatkan dalam satu kelompok dengan langkah- langkah yang ditempuh untuk menghasilkan suatu ketentuan hukum dan berbagai dalilnya. Kemudian, pandangan yang sama dengan dengan al Ghazali diperlihatkan oleh pemikir ushul fiqh kontemporer. Diantaranya adalah Abu Zahrah dan Ahmad Hasan. Kedua ini menyatakan bahwa qiyas adalah salah satu cara untuk menggali hukum, dan Abu Zahrah menambahkan bahwa hakekatnya qiyas tidak lebih dari sekedar alat yang dipakai untuk menafsirkan nash.

Argumentasi ketiga kelompok ulama tentang penggunaan qiyas tersebut, dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu yang menerima dan yang menolak qiyas. Masing-masing kelompok mengemukakan dalil al quran, sunah, ijma’ ulama’ atau sahabat dan dalil aqli.