PENGUJIAN UNTUK ALERGI KULIT

PENGUJIAN UNTUK ALERGI KULIT

PENGUJIAN UNTUK ALERGI KULIT

PENGUJIAN UNTUK ALERGI KULIT
PENGUJIAN UNTUK ALERGI KULIT

Uji kulit untuk alergi digunakan untuk mengidentifikasi zat yang menyebabkan gejala alergi Anda.

Hal ini sering dilakukan dengan menerapkan suatu ekstrak alergen pada kulit, menggaruk atau menusuk kulit untuk memungkinkan eksposur, dan kemudian mengevaluasi reaksi kulit. Hal ini juga dapat dilakukan dengan suntikan alergen di bawah kulit, atau dengan menerapkannya pada sebuah patch yang dipakai pada kulit untuk jangka waktu tertentu.

Prosedur bervariasi tergantung pada jenis tes alergi.

  • Scratch test (juga dikenal dengan uji tusuk)

Pertama, melakukan pemeriksaan kulit dan bersihkan dengan alkohol. Wilayah pada kulit ditandai untuk mengidentifikasi setiap alergen yang akan diuji. Setetes ekstrak untuk setiap alergen potensial – seperti serbuk sari, atau racun serangga – ditempatkan pada tanda yang sesuai. Perangkat menusuk kecil sekali pakai ini kemudian digunakan sehingga ekstrak dapat masuk ke lapisan luar kulit, yang disebut epidermis. Tusukan kulit tidak ditembak dan tidak menyebabkan perdarahan.

  • Uji intradermal

Setelah memeriksa dan membersihkan kulit, sejumlah kecil alergen disuntikkan di bawah kulit.

  • Patch test

Cara lain adalah dengan menerapkan alergen ke patch yang kemudian diletakkan pada kulit. Hal ini dapat dilakukan untuk menentukan pemicu dermatitis kontak alergi. Jika ada antibodi alergi di sistem anda, kulit anda akan menjadi jengkel dan mungkin gatal, seperti gigitan nyamuk. Reaksi ini berarti alergi terhadap zat tersebut.

 

FOTOSENSITISASI

Banyak kasus keracunan tanaman pada hewan domestik ditandai dengan fotosensitisasi. Fotosensitisasi adalah gejala dermatitis dan/atau konjungtivitis dan/atau cutaneous hyperesthesia yang berkembang pada hewan yang terpapar oleh cahaya matahari. Fotosensitivitas berarti peningkatan kepekaan terhadap sinar matahari secara berlebihan yang disebabkan oleh deposisi molekul yang mampu mengabsorbsi gelombang matahari pada kulit.

Mekanisme fotosensitisasi

Fotosensitisasi dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu:

  1. Setelah absorpsi radiasi sinar matahari, molekul sensitisasi mengalami perubahan panjang gelombang menjadi molekul triplet. Molekul sensitisasi triplet kemudian berinteraksi dengan molekul lain melalui hidrogen atau proses transfer elektron untuk menghasilkan radikal bebas yang sangat reaktif. Radikal bebas tersebut kemudian bereaksi dengan oksigen atau molekul lain, atau melalui transfer energi secara langsung kepada molekul oksigen yang menghasilkan oksigen tunggal dan kemudian dapat mengoksidasi substrat yang peka. Proses ini lebih sering terjadi dan porphyrin merupakan penyebab fotosensitisasi.
  2. Penyimpanan senyawa kimia fotosensitisasi umumnya terjadi pada sel endothelial dari kapiler dermis dan dalam hal tertentu adalah sel mast dermis. Beberapa senyawa aktif mungkin berikatan hanya pada membran permukaan kapiler, sedangkan lainnya diabsorbsi ke dalam sel yang akan menyimpan senyawa aktif tersebut di dalam lysosomes. Melalui absorbsi cahaya dengan penjang gelombang yang tepat oleh endothelium kapiler yang terdapat di dalam lapisan luar dermis, maka kerusakan sel umumnya terjadi melalui pelepasan enzim proteolitik dari lysosomes. Akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas kapiler, nekrosis sel, oklusi vaskuler dan inflamasi akut. Bila penetrasi pada epidermis oleh radiasi dicegah baik oleh ketebalan kulit, bulu penutup atau pigementasi seperti kulit hitam, maka fostosensitisasi tidak akan terjadi.
  3. Kadang-kadang fotosensitisasi harus didiferensiasi dari dermatitis (sunburn) sederhana. Dematitis sederhana tersebut merupakan reaksi normal kulit yang tidak terlindungi, tidak berpigmentasi terpapar oleh cahaya matahari, dan disebabkan oleh radiasi ultraviolet dengan panjang gelombang yang pendek (320 nm).

Sumber : https://nashatakram.net/jenis-kata/