Pengertian Ijma’, Syarat-Syarat Dan Macam-Macam Ijma’ Serta Kehujjaan Ijma’

Pengertian Ijma', Syarat-Syarat Dan Macam-Macam Ijma' Serta Kehujjaan Ijma'

Pengertian Ijma’, Syarat-Syarat Dan Macam-Macam Ijma’ Serta Kehujjaan Ijma’

Pengertian Ijma', Syarat-Syarat Dan Macam-Macam Ijma' Serta Kehujjaan Ijma'
Pengertian Ijma’, Syarat-Syarat Dan Macam-Macam Ijma’ Serta Kehujjaan Ijma’

Pengertian Ijma’

Ijma’ berdasarkan istilah ushul fiqhi yakni komitmen seluruh mujtahid dikalangan umat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah saw., wafat atas aturan syara’ terkena suatu kejadian. Apabila terjadi sesuatu insiden yang dihadapkan kepada tiruana mujtahid dari umat islam pada waktu insiden itu terjadi dan mereka setuju atas aturan yang terkenanya, maka komitmen mereka itu yang disebut dengan Ijma’

Rukun Ijma’

Dalam defenisi di atas dikatakan bahwa setuju tiruana mujtahid muslim pada suatu masa terhadap aturan syar’i, maka dari sini diambil kesimpulan bahwa rukun Ijma’ ada 4 yaitu :
Pada dikala terjadinya insiden itu, mujtahid jumlahnya lebih dari satu orang
Sepakat atas aturan syar’i wacana suatu peristiwa
Ada komitmen itu dimulai
Menetapkan komitmen dari tiruana mujtahid terhadap suatu hukum
Syarat-Syarat Ijma’
Yang bersepakat yakni para mujtahid
Yang bersepakat yakni seluruh mujtahid
Ijma’ dilakukan setelah wafatnya Rasulullah saw.,
Kesepakatan mereka harus bekerjasama dengan syari’at

Macam-Macam Ijma’

Dilihst dari cara terjadinya, maka ijma’ terbagi atas dua macam yaitu :

1. Ijma’ Sharih

Yaitu tiruana mujtahid mengemukakan pendapatnya masing-masing, lalu menyepakati salah satunya. Hal ini terjadi kalau tiruana mujtahid berkumpul disuatu tempat, lalu masing-masing mengeluarkan pendapat terhadap duduk kasus yang diketahui ketetapan hukumnya. Sesudah itu mereka menyepakati salah satu dari banyak sekali pendapat yang mereka keluarkan.

Baca Juga: Ayat Kursi

2. Ijma’ Sakuti

Yaitu pendapat ulama wacana suatu duduk kasus yang diketahui oleh para mujtahid lainnya, tetapi mereka diam, tidak menyepakati ataupun pendapat itu secara jelas. Adapun ijma’ sakuti terbagi atas dua macam yaitu sebagai diberikut : Ijma’ Qath’i , yaitu bahwa hukumnya dipastikan dan tidak ada jalan untuk memutuskan aturan yang berlainan dengan alasan masalah ini, dan tidak ada peluang untuk ijtihad dalam suatu masalah setelah terjadinya ijma’ yang sharih atas aturan syara’ terkena masalah ini.

Ijma’ Dzanni, yaitu bahwa hukumnya diduga berpengaruh dan ijma’ ini tidak mengeluarkan masalah ini dari kandungannya sebagao objek ijtihad, sebab ialah ungkapan dari sekelompok mujtahid bukan keseluruhannya.
Kehujjaan Ijma’.

Ada beberapa duduk kasus yang berkaitan dengan kehujjan ijma’, contohnya apakah ijma’ itu syar’i,?, Apakah ijma’ itu ialah landasan ushul fiqhi atau bukan? Bolehkah kita nafikan atau mengingkari ijma’? Untuk menjawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, maka para ulama tidak sama pendapat sebagai diberikut : Al-Badawi beropini bahwa, orang-orang hawa tidak mengakibatkan ijma itu sebagai hujjah secara mutlak.

Menurut Al-Hamidi, bahwa para ulama setuju terkena ijma’ itu bukan sebagai hujjah yang wajib diamalkan. Pendapat tersebut berperihalan dengan syari’ah khawarij dan Nizam dari golongan Mu’tazilah
Al-Hajib berkata bahwa ijma’ itu hujjah tanpa menanggapi pendapat nizam, khawarij dan syi’ah
Ar-Rahawi berpendapat bahwa ijma’ itu intinya yakni hujjah
Dalam kitab Qawaidul Ushul dan Ma’aqidul ushul dikatakan bahwa ijma’ itu hujjah pada setiap masa. Namun pendapat ini diperihal oleh daud yang menyampaikan bahwa ijma’ itu terjadi pada masa teman dekat.