tokomodemku Posted on 9:47 am

Pengertian Hukuman

Pengertian Hukuman

Hukuman dalam bahasa Arab disebut ‘uqubah. lafal ‘uqubah menurut bahasa berasal dari kata عَقَبَ  yang sinonimnyaخَلَفَهُ وَجَاءَ بِعَقَبِهِ  artinya mengiringinya dan datang dibelakangnya, dari kata tersebut dapat dipahami  bahwa sesuatu disebut hukuman karena ia mengiringi perbuatan dan dilaksanakan sesudah perbuatan itu dilakukan.

Dalam bahasa Indonesia, hukuman diartikan sebagai “siksaan dan sebagainya” atau “keputusan yang dijatuhkan oleh hakim”.

Dalam hukum di Indonesia istilah hukuman hampir sama dengan pidana, walaupun sebenarnya seperti yang dikemukakan oleh Wirjono Projokiro, kata hukuman sebagai istilah tidak dapat menggantikan kata pidana, oleh karena itu ada istilah hukuman pidana dan hukuman perdata seperti hukum ganti kerugian. Sedangkan menurut Mulyatno yang dikutip oleh Mustafa Abdullah istilah pidana lebih tepat daripada hukuman sebagai terjemahan kata straf karena kalau straf diterjemahkan dengan hukuman maka straf recht harus diterjemahkan hukum-hukuman.

Menurut Sudarto yang dikutip oleh Mustafa Abdullah dan Ruben Ahmad, pengertian hukuman adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarart-syarat tertentu.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hukuman adalah suatu penderitaan nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan yang diberikan kepada seseorang yang cakap menurut hukum yang telah melakukan perbuatan atau peristiwa pidana.[1]

Menurut hukum  pidana islam, hukuman adalah seperti yang didefinisikan oleh Abduk Qadir Audah sebagai berikut:

اَلْعُقُوْبَةُ الْجَزَاءُ لِمَصْلَحَةِ الْجَمَاعَةِ عَلىَ عِصْيَانِ اَمْرِاﻠﺷﱠﺎرِعِ

Hukuman ialah pembalasan yang ditetapkan untuk kemaslahatan masyarakat, karena adanya pelanggaran atas ketentuan-ketentuan syara’.[2]

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa hukuman adalah salah satu tindakan yang diberikan oleh syara’ sebagai pembalasan atas perbuatan yang melanggar ketentuan syara’ dengan tujuan untuk memelihara ketertiban dan kepentingan masyarakat sekaligus untuk melindungi kepentingan individu.

  1. Dasar Hukum

Dalam masyarakat  islam, ada yang memandang bahwa hukum islam itu adalah Al-Quran dan Sunnah serta bagian yang lain hanyalah merupakan sumber hukum. Dalam literatur ilmu usul fiqih istilah yang lazim digunakan untuk menjelaskan sumber-sumber hukum islam disebut dengan syar’i.[3]

Menurut Abdul Wahab Khallaf ada 10 dalil yang diberi judul dalil syar’i yaitu:

  1. Al-Quran
  2. Al- Sunnah
  3. Al-Ijma’ (konsensus)
  4. Al-Qiyas (analogi)
  5. Al-Istihsan (penilaian baik, pilihan)
  6. Al-Maslahat Al-Mursalah (kemaslahatan/ kepentingan umum)
  7. Al-‘urf (adat istiadat, kebiasaan)
  8. Al-Istishab (mengikuti aturan yang berlaku sebelum ada ketentuan baru)
  9. Syar’u man qablana (hukum Allah yang telah diturunkan kepada Nabi sebelumnya, selama belum ada hukum baru bagi umat Nabi Muahmmad)
  10. Mazhab Al-Shahabi (pendapat sahabat Nabi).

Dalil tersebut hanya 4 yang dianggap sebagai kesepakatan diantara mujtahidin/fuqaha yaitu Al-Quran, Al-Sunnah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas. Sedangkan yang lainnya tidak disepakati oleh ulama pada umumnya.[4]

Berbagai kebijakan yang ditempuh oleh islam dalam upaya menyelamatkan manusia baik perseorangan maupun masyarakat dari kerusakan dan menyingkirkan hal-hal yang menimbulkan kejahatan. Islam berusaha mengamankan masyarakat dengan berbagai ketentuan, baik berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Nabi, maupun berbagai ketentuan dari ulil amri atau lembaga legislatif yang mempunyai wewenang menetapkan hukuman bagi kasus-kasus ta’zir. Semua itu pada hakikatnya dalam upaya menyelamatkan umat manusia dari ancaman kejahatan. Dasar-dasar penjatuhan hukuman tersebut diantaranya adalah :

sfumber :

https://sanghachiro.com/cinderella-apk/