tokomodemku Posted on 4:10 am

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai-nilai pendidikan karakter perlu dijabarkan sehingga diperoleh deskripinya. Deskripsi berguna sebagai bahasan atau tolak ukur ketercapaian pelaksanaan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah. Adapun 18 nilai-nilai pendidikan karakter yang di deskripsikan adalah sebagai berikut:

  1. Religius, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.
  2. Jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi, sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang  berbeda dari dirinya.
  4. Disiplin, tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  5. Kerja keras, perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
  6. Kreatif, berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  7. Mandiri, sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
  8. Demokratis, cara berpikir, bersikap, bertindak yang menilai sama hal dan kewajiban dirinya dan orang lain.
  9. Rasa ingin tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yan dipelajarinya, dilihat dan didengar.
  10. Semangat kebangsaan, cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
  11. Cinta tanah air, cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
  12. Menghargai prestasi, sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Bersahabat/komunikatif, tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.
  14. Cinta damai, sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
  15. Gemar membaca, kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan  kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli lingkungan, sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  17. Peduli sosial, sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  18. Tanggung jawab, sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannnya yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age) karena usia dini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% varibialitas kecerdasan pada orang dewasa terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam pendidikan keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Akan tetapi, bagi sebagian keluarga, proses pendidikan karakter yang sistematis diatas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, sebaiknya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk lingkungan sekolah, terutama sejak play group, taman kanak-kanak, dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Disinilah, peran guru, yang dalam filosofi jawa disebut  digugu dan ditiru menjadi ujung tombak di lingkungan sekolah, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.[14]

 

baca juga :