tokomodemku Posted on 4:08 am

Metode Pendidikan Karakter

Metode Pendidikan Karakter

Doni A. Koesoema, sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Q-Anees dan Adang Hambali, mengajukan lima metode pendidikan karakter (dalam penerapan lembaga di lembaga sekolah), yaitu: Pertama, mengajarkan. Pemahaman konsepktual telah dibutuhkan sebagai bekal konsep-konsep nilai yang kemudian menjadi rujukan bagi perwujudan karakter tertentu. Mengajarkan karakter berarti memberikan pemahaman pada peserta didik tentang struktur nilai tertentu, keutamaan, dan masalahnya. Mengajarkan nilai memiliki dua faedah, pertama, memberikan pengertian konseptual baru, kedua, menjadi pembanding atas pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. Karena itu, maka proses “mengajarkan” tidaklah menolong, melainkan melibatkan peran peserta didik.

Kedua, Keteladanan. Manusia lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Keteladanan memiliki posisi yang sangat penting. Guru harus terlebih dahulu memiliki karakter yang ingin hendak diajarkan. Guru adalah yang digugu dan ditiru, peserta didik akan meniru apa yang dilakukan oleh gurunya ketimbang yang dilaksanakan sang guru. Bahkan, sebuah pepatah kuno memberi peringatan pada para guru bahwa peserta didik akan meniru karakter negatif secara lebih ekstrem ketimbang gurunya, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Keteladanan tidak hanya bersumber dari guru, melainan juga bersumber dari seluruh manusia yang ada di lembaga pendidikan tersebut. Juga bersumber dari orang tua, karib kerabat, dan siapapun yang sering berhubungan dengan peserta didik. Pada titik ini, pendidikan karakter membutuhkan lingkungan yang utuh, saling mengajarkan karakter.

Ketiga, Menentukan prioritas. Penentuan prioritas yang jelas harus ditentukan agar proses evaluasi atas berhasil tidaknya pendidikan karakter dapat menjadi jelas. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki beberapa kewajiban. Pertama, menentukan tuntutan standar yang akan ditawarkan kepada peserta didik, kedua, semua pribadi yang terlibat dalam lembaga pendidikan harus memahami secara jernih apa nilai yang ingin ditekankan, ketiga, jika lembaga ingin menetapkan perilaku standar yang menjadi ciri khas lembaga maka karakter itu  harus difahami oleh peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Keempat, Praksis prioritas. Unsur lain yang sangat penting setelah penentuan prioritas karakter adalah bukti dilaksanakannya prioritas karakter tersebut. Lembaga pendidikan harus mampu membuat verifikasi sejauh mana prioritas yang telah ditentukan telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan melalui berbagai unsur yang ada. Kelima, Refleksi. Refleksi berarti dipantulkan ke dalam diri. Apa yang telah dialami masih tetap terpisah dengan kesadaran diri sejauh  ia belum dikaitkan, dipantulkan dengan isi kesadaan seseorang. Refleksi dapat juga disebut sebagai proses bercermin pada peristiwa yang telah terjadi.[11]

sumber :

http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/06/06/7-jenis-kinemaster-pro/