Mencerikan Tentang Kisah Fir’aun

Mencerikan Tentang Kisah Fir’aun

Mencerikan Tentang Kisah Fir’aun

Mencerikan Tentang Kisah Fir’aun
Mencerikan Tentang Kisah Fir’aun

Kisah Fir’aun

Fr’aun artinya raja, yang dimaksud raja adalah raja-raja yang memerintah dinegeri mesir zaman dahulu dan fir’aun yang memerintah dan berkuasa  pada masa Nabi Musa Alaihisallam. (mungkin) Rames II, memerintah tahun 1250 sebelum masehi. Kata-kata Fir’aun banyak disebutkan dalam Al-Quran.

Fir’aun adalah termasuk orang dari sekian banyak orang atau hamba ALLAH yang dinash dan dicap sebagai penguhuni neraka. ia sampai dinash oleh ALLAH sebagai penghuni neraka, karena sikap kesombongannya di muka bumi ALLAH ini, tidak hanya berlaku sombong di hadapan sesama manusia juga kesombongannya terhadap ALLAH yang menciptkan dunia berserta isinya ini. Ia juga menentang dan melawan serta menolak ajaran-ajaran (dakwah islamiyah), ia juga tidak mau mengakui akan ada nya Allah, ia malah mengakui dan menyatakan bahwa dirinyalah yang harus dianggap Tuhan.

Sebagai Seorang Raja

Sebagai seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, dan diantara jalan untuk mengukuhkan kerajaannya, ia memerintahkan kepada menteri-menterinya supaya membunuh atau menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup  anak-anak perempuan (sebagai generasi penerus), dan ia juga memerintahkan kepaa pera pengikut Nabi Musa alaihisallam (yang beriman) supaya dibunuh. Sungguh keterlalaluan dan melampaui batas sikap dan ulah Fir’aun ini.

Dalam Al-Qur’an telah diabadikan kekejam-kekejaman dan kesombongan Fir’aun seperti dibawah ini, Qur’an surah Al-Qashash ayat 4:

“Sesungguhnya Fir’aun menyombongkan dirinya di bumi dan membuat pendudukannya berpecah belah. dia menindas satu golongan dari mereka, menyembelih anak-anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Fir’aun berkeinginan mengukuhkan kerjaaannya

Fir’aun berkeinginan mengukuhkan kerjaaannya dengan cara memecah belah rakyatnya dalam beberapa golongan sehingga dengan perpecahan itu terjadi persaingan dan masing-masing golongan membenci golongan yang lain dan berlomba-lomba menunjukan kesetiaannya. Dan jika mereka bersatu, niscaya mudah menyusun kekuatan  untuk menentang kedzalimannya. Ahli nujumnya (fir’aun) meramalkan bahwa kekuasaannya akan dihancurkan oleh seorang laki-laki keturunan bani israil yang berada dibawah kekuasaannya. Lalu Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap anak-anak yang lahir. sebenarnya kedatangan anak laki-laki itu bukan untuk menghancurkan Fir’aun tetapi adalah mengajaknya agar beriman kepada ALLAH. Demikian maksud dari ayat 4 dari surah Al-Qashash.

“Maka tidak ada yang beriman kepada musa melainkan keturunan dari kaumnya (musa sendiri) dalam ketakutan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka mereka yang akan memfitnah mereka. Sesungguhnya fir’aun berkuasa dibumi, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.”

Yang dimaksud dengan memfitnah disini ialah ancaman pembunuhan terhadap pengikut Nabi Musa alaihisallam  yang dilancarkan oleh Fir’aun dan pemuka-pemuka fir’aun.

Kesombongan Fir’aun

Dan ayat berikut ini adalah menunjukan kesombongan Fir’aun di hadapan Nabi Musa Alaihisallam dan di hadapan ALLAH, kerea memproklamirkan dirinya menjadi tuhan, serta menghina Tuhannya Nabi Musa Alaihisallam :

“Dan Fir’aun berkata:” Hai pembesar-pembesar, aku tidak mengetahui ada tuhan bagi kamu selain aku. maka bakarlah untukku, hai Haman tanah liat, lalu buatlah untukku bengunan yang tinggi supaya aku naik melihat tuhan musa. Dan sesungguhnya aku yakin bahwa dia termasuk orang-orang yang dusta. Dan dia (Fir’aun) beserta balatentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dikembalikan kepada kami”.  (QS.AL-QASHASH:38-39)

Fir’aun Mendirikan Bangunan

Fir’aun menyuruh mendirikan bangunan yang tinggi untuk dapat melihat Tuhan Musa, adalah untuk menutupi kelemahan dirinya dan juga agar pengikut-pengikutnya tidak terpengaruh oleh Nabi Musa Alaihisallam.

Maka sebagai balasan/hukuman yang diberikan ALLAH kepada Fir’aun dan bala tentaranya (pendukungnya) adalah laknat sewaktu didunia yang berupa kehancuran kekuasaannya dengan ditenggelamkannya dilaut, sedang di akhirat kelak ia akan mendapat siksa neraka yang abadi.

Hal itu telah ditegaskan oleh ALLAH dalam surah AL-QASHASH ayat 40:

“Maka kami (ALLAH) mengadzabnya beserta bala tentaranya lalu kami lemparkan mereka ke dalam laut. maka perhatikanlah bagaimana jadinya kesudahan orang-orang yang dzalim.”

dan juga Firman ALLAH dalam surah Al-Isra ayat 103

“Maka Fir’aun bermaksud mengusir mereka (bani israil) dari (mesir), maka kami menenggelamkan dan sekalian orang yang bersamanya.”

Nabi Musa Alaihisallam dan kaumnya yang beriman diselamatkan dari ancaman Fir’aun dan adzab ALLAH, sementara Fir’aun dan balatentara (pendukungnya) semuanya dibinasakan oleh ALLAH, ditenggelamkan ke dalam laut.

Musa Diselamatka Allah

“Dan kami (ALLAH) selamatkan Musa dan sekalian orang-orang yang bersamanya (beriman kepadanya). Kemudian kami tenggelamkan golongan yang lain (yaitu Fir’aun dan pengikut yang turun ke laut mengejar Nabi Musa). Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah sebagai tanda (kekuasaan ALLAH), dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’araa :65-67)

itulah nash ALLAH untuk Fir’aun sebagai figur orang yang gila pangkat, gila kekuasaan sehingga aturan hidup yang dijalankannya bukan lagi aturan dari sang pencipta yang maha kuasa, akan tetapi aturan yang dimainkan disesuaikan dengan kemauan hawa nafsunya sendiri.

Kalau sekarang ini ada seorang yang gila dengan kekuasaan gila dengan pangkat dan jabatan sehingga segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya hingga sampai menghalalkan segala cara, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka dia itu telah mewarisi sifat dan sikap Fir’aun yang hidup pada zaman Nabi Musa Alaihisallam. Dengan demikian ia mewaisi ancaman Allah berupa siksaan neraka.

Baca Juga: