Macam-macam Takhshish
tokomodemku Posted on 4:45 am

Macam-macam Takhshish

Macam-macam Takhshish

Macam-macam Takhshish
Macam-macam Takhshish

Menurut manna al qaththan bahwa mukhashish itu dapat di bagi menjadi dua macam :

Mukhashish muttashil

yaitu Takhshish yang tidak berdiri sendiri, dimana di antara ‘am dengan mukhashish tidak dipisah oleh suatu hal. Untuk jenis pertama dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu :
Pertama, istisna’ (pengecualian). Seperti firman Allah SWT:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (4) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5)
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.(QS. An-Nur/24: 4-5)

Ayat ke 5 dari surat an-nur di atas tidak dapat berdiri sendiri jika tidak dikaitkan dengan ayat sebelumnya (ayat 4).

Shifat

sebagaimana firman Allah dalam surat QS an-nur/24:27 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya”.(QS. An-Nur/24: 27).
Lafazh buyutan dalam (rumah) pada ayat di atas berisifat umum yaitu baik rumah orang mukmin yang dilarang memasukinya maupun rumah-rumah orang lain. Tetapi karena disifati lafazh ghoira buyutikum (selain rumahmu), maka keumuman makna rumah tersebut di persempit pengertiannya.

Syarat

seperti firman Allah SWT :
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ(180)
Diwajibkan atas mu, apabila seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika meninggal harta yang banyak berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.(QS. Al-baqarah/2: 180).

Lafazh in taraka khairan pada ayat di atas berfungsi untuk mempersempit keumuman makna kalimat tersebut. Di mana lafazh in taraka khairan adalah syarat dari wasiat. Dengan demikian jika seseorang yang akan meninggal dunia sementara ia tidak meninggalkan harta ia pun tidak di wasiatkan.

Ghayah (pembatasan)

seperti firman Allah SWT:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا (15)
“… dan kami akan mengazhab, sampai Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al-Isra’/17: 15).
Lafazh wa ma kunna mu’adzibina pada ayat di atas bersifat umum, yaitu berlaku bagi siapa saja. Akan tetapi keumuman tersebut di persempit pengertiannya dengan adanya ghayah, yaitu dengan lafazh hatta nab’atsa rasulan.

Baca Juga: