tokomodemku Posted on 3:22 pm

 Konsep Diri  

 Konsep Diri

            Diri kita bukan lagi persona penanggap, tetapi sekaligus sebagai persona stimuli . Menurut Charles Horton Cooley supaya kita menjadi objek dan subjek sekaligus, seperti dengan membayangkan diri kita sebagai orang lain; dalam benak kita. Cooley menyebut gejala ini Iooking-glass self (diri cermin); seakan-akan kita menaruh cermin di depan kita. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain; kita melihat sekilas diri kita seperti dalam cermin. Misalnya, kita merasa wajah kita jelek. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Kita pikir mereka menganggap kita tidak menarik. Ketiga, kita mengalami perasaan bangga atau kecewa; orang mungkin merasa sedih atau malu (Vander Zanden, 1975:79). Dengan mengamati diri kita, sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita, yang disebut sebagai konsep diri. William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others“. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisis.   Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian kita tentang diri kita. Jadi, konsep diri meliputi apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tentang diri kita. Karena itu, Anita Taylor et al. mendefinisikan konsep diri sebagai ”all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself” ( 1977 :98). Dengan demikian, ada dua komponen konsep diri: komponen kognitif dan komponen afektif. Boleh jadi komponen kognitif kita berupa, ”Saya ini orang bodoh,” dan komponen afektif Anda berkata, ”Saya senang diri saya bodoh; ini lebih baik bagi saya.” Boleh jadi komponen kognitifnya seperti tadi, tapi komponen afektifnya berbunyi, ”Saya malu sekali karena saya menjadi orang bodoh.” Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra-diri (self image), dan komponen afektif disebut harga diru (self esteem). Keduanya menurut William D. Brooks dan Philip Emmert, berpengaruh besar pada pola komunikasi interpersonal.

Inilah faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri :

 

1)      Orang Lain

 

            Gabriel Marcel, filusuf eksistensialis, yang mencoba menjawab misteri keberadaan, The Mystery of Being, menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita, ”The fact is that we can understand ourselves by starting from the other, or from others, and only by starting from them.” Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya, akan membentuk konsep diri saya. Harry Stack Sullivan (1953) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati dan disenangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan cenderung tidak akan menyenangi diri kita. S. Frank Miyamoto dan Sanford M. Dornbusch (1956) mencoba mengkorelasikan penilaian orang lain terhadap dirinya sendiri dengan skala lima angka dari yang paling jelek sampai yang paling baik. Yang dinilai ialah kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik, dan kesukaan orang lain pada dirinya. Dengan skala yang sama mereka juga menilai orang lain. Ternyata, orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain, cenderung memberikan skor yang tinggi juga dalam menilai dirinya. Artinya, harga dirinya sesuai dengan penilaian orang lain terhadap dirinya. Eksperimen lain yang dilakukan Gergen (1965, 1972) menunjang penemuan ini. Pada satu kelompok, subjek-subjek eksperimen yang menilai dirinya dengan baik diberi peneguhan dengan anggukan, senyuman, atau pernyataan mendukung pendapat mereka. Pada kelompok lain, penilaian positif tidak ditanggapi sama sekali. Kelompok pertama menunjukkan peningkatan citra diri yang lebih baik, karena mendapat sokongan dari orang lain. Tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/