Klasifikasi fotosensitisasi

Klasifikasi fotosensitisasi

Klasifikasi fotosensitisasi

Klasifikasi fotosensitisasi
Klasifikasi fotosensitisasi

Seekor hewan menglami fotosensitisasi biasanya melalui absorpsi

senyawaan tertentu yang dimasukan atau terbentuk di dalam traktus alimentarius. Namun fotosensitisasi yang lebih luas dapat terjadi melalui absorpsi ke dalam kulit dimana senyawa fotosensitisasi secara lokal mengandung bahan minyak atau bahan obat gosok. Keberadaan penyakit metabolik kongenital dan obat penyebab penyakit (drug-induced diseases) dapat menimbulkan senyawa sensitisasi endogenous yang berlebihan atau abnormal. Senyawa tersebut dapat berupa porphyrin non-fisiologis seperti uroporphyrin I (seperti porphyria erythropoietic kongenital pada sapi dan babi), atau jumlah berlebihan dari tipe III porphyrin alami, termasuk protoporphyrin IX ( seperti pada obat penyebab gangguan sintesis haem hati).

 

Fotosensitisasi diklasifikasikan menjadi:

 

1. Fotosensitisasi primer (Tipe I) – langsung dari racun tanaman.

2. Fotosesitisasi sekunder atau hepatogenus (Tipe II) – akibat dari metabolit racun.

3. Fotosensitisasi primer. Beberapa tanaman mengandung senyawa fluoresen yang berpotensi merangsang pigmen, setelah absorpsi dari lambung masuk ke dalam aliran darah portal, dan tidak dikeluarkan secara sempurna oleh hati, tetapi tetap berada di dalam sirkulasi peripferal dan mencapai kapiler kulit.

 

Tanaman tersebut meliputi:

1. Fagopyrum esculentum (boekweit, buckweat) – mengandung pigmen helianthrone.

2. Seledri – mengandung furocoumarin.

3. Phenothiazine – berubah menjadi phenothizine sulphoxide di dalam rumen, kemudian menjadi phenothiazone di dalam hati.

 

Fotosensitisasi sekunder

atau hepatogenus. Kebanyakan fotosensitisasi pada hewan domestik bukan fotosensitisasi primer tetapi bersifat sekunder terhadap kerusakan hati. Banyak tanaman dapat menimbulkan kerusakan jaringan hati dan sebagai akibatnya fotosensitisasi merupakan gejala klinis dari keracunan tanaman. Senyawaan fotosensitisasi tersebut adalah phylloerythrin. Phylloerythrin berasal dari chlorophyll melalui proses mikroba di dalam saluran pencernaan. Pigmennya merupakan porphyrin fluorescent. Senyawa ini diserab kedalam darah portal dan dikeluarkan oleh hati untuk diekskresikan ke dalam empedu, yang merupakan sirkulasi enterohepatik. Salah satu gambaran kerusakan sel hati adalah ketidak mampuan dalam mengambil phylloerythrin dari darah sinusoid dan mengeluarkannya ke dalam empedu.

Phylloerythrin yang beredar di dalam darah perifer secara tidak langsung

diekskresikan melalui urin sebagai porphyrin endogenous yang mengandung berbagai kelompok hydrofilik, dan hal ini juga meningkatkan potensi fotosensitisasinya. Tanaman-tanaman tersebut adalah:

1. Lantana camara (bunga pagar, tahi ayam, tai kotok) – mengandung lantadene.

2. Cengkeh

3. Leguminosa

Sumber : https://nashatakram.net/tata-cara-penulisan-unsur-serapan/