Identifikasi Tanaman Balangeran
tokomodemku Posted on 6:17 pm

Identifikasi Tanaman Balangeran

Identifikasi Tanaman Balangeran

Identifikasi Tanaman Balangeran
Tanaman balangeran adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang sangat populer di dunia perdagangan kayu. Tanaman balangeran tergolong dalam famili Dipeterocarpaceae dengan spesies Shorea balangeran. Saat ini, balangeran tergolong tumbuhan langka akibat kegiatan perdagangan yang tidak terkendali.

2. Klasifikasi Tanaman Balangeran (Shorea balangeran)

Umumnya, jenis flora balangeran memiliki klasifikasi sebagai berikut (Suryanto et al, 2012):
Devisi  : Spermatophyta 
Kelas  : Dicotyledoneae 
Ordo  : Theales 
Famili  : Dipterocarpaceae 
Genus  : Shorea 
Spesies  : Shorea balangeran
Shorea balangeran adalah salah satu jenis tanaman endemik di lahan gambut dan keberadaanya sampai pada saat ini sangat sulit ditemukan atau terancam punah. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Hilwan et al. (2013) yang mengemukakan bahwa jenis Shorea balangeran termasuk dalam status terancam punah dan langka sehingga diperlukan upaya pengembangan jenis tersebut untuk kegiatan rehabilitasi maupun pembangunan hutan tanaman produksi.
3. Pertumbuhan Tanaman Balangeran

Pertumbuhan balangeran diawali dengan melakukan permudaan. Permudaan secara alami yakni dengan membiarkan buah balangeran jatuh di atas tanah. Selanjutnya, permudaan buatan dilakukan dengan menanam bibit tanaman balangeran yang sudah mencapai tinggi 30-50 cm di dalam sebuah jalur dengan lebar 2-3 m yang telah dibersihkan sebelumnya. Jarak tanam tanaman balangeran berkisar 3 m dengan jarak antar jalur sekitar 5 sampai 6 m. Pada tanaman muda balangeran membutuhkan pemeliharaan sampai umur 4-5 tahun (Martawijaya et al., 1989). Selanjutnya, Hyne (1987) mengatakan bahwa tanaman balangeran yang sudah dewasa memerlukan cahaya yang lebih banyak, untuk itu pemeliharaannya dilakukan dengan membuka ruang tempat tumbuh.

Tanaman balangeran dapat mengalami pertumbuhan tinggi sampai 25 meter. Tanaman balangeran memiliki ukuran batang bebas cabang sekitar 15 meter dengan diameter mencapai 50 sentimeter dan tidak memiliki banir. Ketika tanaman balangeran sudah memiliki umur tua maka terjadi perubahan warna kulit pada bagian luar yakni warna merah tua sampai hitam. Kulit pohon tersebut memiliki ketebalan sekitar 1 sampai 3 cm. Kulit pohon balangeran rata dan tidak mengelupas. Bagian dalam kayu terlihat berwarna coklat merah dan ada juga yang coklat tua khususnya pada bagian teras. Sedangkan pada bagian kayu gubalnya memiliki warna putih kekuningan atau merah muda. Bagian kayu gubal pada tanaman balangeran memiliki ketebalan sekitar 2 sampai 5 cm (Suryanto et al, 2012).

Selanjutnya, tekstur kayu tanaman balangeran bersifat kasar dan rata. Jenis kayunya memiliki serat lurus. Apabila kayunya diraba akan terasa licin dengan beberapa bagian tertentu terasa lengket akibat pengaruh damar (Suryanto et al, 2012). Kayu tanaman balangeran termasuk dalam kelas kuat II dengan berat jenis 0,86. Lebih lanjut dikatakan bahwa kayu balangeran tidak mengalami penyusutan saat pengeringan dan memiliki ketahanan terhadap serangan jamur pelapuk. Kayu tanaman balangeran tergolong ke dalam kelas awet II (I-III) (Martawijaya et al., 1989).

 

Daun tanaman balangeran berwarna hijau tua dan akan berubah menjadi warna coklat ketika dalam keadaan kering. Secara spesifik daun balangeran berujung lancip dengan pangkal daun berbentuk bulat. Tanaman balangeran memiliki buah dengan bentuk bulat dengan ukuran 5-6 x 3-5 milimeter dengan bagian sayap yang sedikit berwarna merah dan mengalami perubahan ketika sudah matang. Warna buah balangeran terlihat kecoklatan dengan sayap berbentuk spatula yang sangat tipis. Umumnya, saya pada buah balangeran terlepas lebih cepat apabila telah mencapai umur kematangan buah (Leppe & Tata, 1977).