BUDIDAYA IKAN BERONANG

BUDIDAYA IKAN BERONANG

BUDIDAYA IKAN BERONANG

BUDIDAYA IKAN BERONANG
BUDIDAYA IKAN BERONANG
  1. PENDAHULUAN

Dalam PJPT II, sub sektor perikanan semakin dituntut dalam mencukupi

kebutuhan protein hewani dari ikan. Selama ini produksi perikanan laut

sebagian besar masih tergantung dari hasil pemungutan/penangkapan dari

alam yang produksinya semakin menurun, dilain pihak dengan meningkatnya

laju pertumbuhan penduduk kebutuhan protein akan terus meningkat setiap

tahun. Oleh karena itu produksi perikanan perlu digali dari 2 (dua) sumber yaitu

penangkapan dan budidaya.

Salah satu komoditi ikan laut yang potensial dan sudah dapat dibudidayakan

adalah ikan beronang (Siganus sp). Dari hasil penelitian ternyata komoditi

beronang mempunyai nilai yang menguntungkan sebagai berikut:

  1. Ikan beronang merupakan makanan yang enak dan gurih dan disukai banyak

orang sehingga pemasaran ikan ini cukup baik.

  1. Ikan ini umumnya “primary herbivor” yaitu pemakan plankton nabati

tumbuhan dan juga memakan makanan buatan.

  1. Selama musim-musim tertentu benih beronang dapat diperoleh dalam jumlah

banyak.

  1. Ikan beronang mempunyai toleransi besar terhadap salinitas dan suhu.
  2. Mempunyai daya adaptasi yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat.
  3. Ikan ini sudah dapat dipijahkan di dalam laboratorium sehingga prospek

pembenihan dari hatchery cukup baik.

  1. Ikan beronang mempunyai harga pasar yang cukup tinggi baik untuk

konsumsi dalam maupun luar negeri, terutama yang ada telurnya selama

tahun baru cina.

  1. Teknologi pembesaran ikan beronang sudah dikuasai.

Mengingat budidaya ikan beronang relatif baru dikenal masyarakat, maka

petunjuk teknis ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi yang berminat

melakukan usaha budidaya beronang.

  1. BIOLOGI

1) Diskripsi dan Taksonomi

Ikan beronang dikenal oleh masyarakat dengan nama yang berbeda-beda

satu sama lain seperti di Pulau Sribu dinamakan kea-kea, di Jawa Tengah

dengan nama biawas dan nelayan-nelayan di Pulau Maluku menamakan

dengan sebutan samadar.

Ikan beronang termasuk famili Siginidae dengan tanda-tanda khusus sebagai

berikut D XIII, 10 A VII, 9, P2 I, 3, 1, tubuhnya membujur dan memipih latural,

dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal.

Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi oleh

sebuah duri yang tajam mengarah ke depan antara neural pertama dan

biasanya tertanam di bawah kulit. Duri-duri ini dilengkapi dengan kelenjar

bisa/racun pada ujungnya.

Secara lengkap taksonomi ikan beronang adalah sebagai berikut.

Kelas:

– Dada : Percipformes

– Sub dada : Acanthuroidei

– Famili : Siganidae

– Genus : Siganus

– Species : Siganus spp.

2) Kebiasaan Makanan

Sesuai dengan morfologi dari gigi dan saluran pencernaannya yaitu mulutnya

kecil, mempunyai gigi seri pada masing-masing rahang, gigi geraham

berkembang sempurna, dinding lambung agak tebal, usus halusnya panjang

dan mempunyai permukaan yang luas, ikan beronang termasuk pemakan

tumbuh-tumbuhan, tetapi kalau dibudidayakan ikan beronang mampu

memakan makanan apa saja yang diberikan seperti pakan buatan.

3) Penyebaran

Penyebaran ikan beronang ini cukup luas, tetapi penyebaran setiap species

sangat terbatas seperti yang terdapat di LON LIPI daerah penyebaran setiap

species sebagai berikut:

  1. Siganus guttatuspenyebarannya di :

Sumatera : Bengkulu, Padang Deli;

Jawa : P. Seribu, Cirebon, Balay, Surabaya;

Kalimantan : Balik Papan;

Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo, Manado, Selayar;

Maluku : Seram, P. Obo, Ternate, Ambon, dsb.

  1. Siganus canaculatuspenyebarannya di :

Sumatera : Padang;

Jawa : Ujung Kulon, Teluk Banten, P. Seribu;

Maluku : Ternate, Bacan.

  1. Siganus vulpinuspenyebarannya di :

Kalimantan : Birabirahan;

Sulawesi : Masalembo, Ujung Pandang, Manado;

Maluku : Ternate, Kajoa, Ambon, Seram;

Irian : Manokwari.

  1. Sirganus virgatuspenyebarannya di :

Sumatera : Pariaman, Padang, Bangka, Belitung;

Jawa : P. Seribu, Bawean;

Kalimtan : Sundakan;

Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo.

  1. Siganus corallinuspenyebarannya di :

Sumatera;

Jawa;

Nusa Tenggara;

Sulawesi;

Maluku.

  1. Siganus chrysapilospenyebarannya di :

Jawa :P. Seribu;

Kalimantan : Sundakan;

Sulawesi : Ujung Pandang, Manado, Slayar;

Nusa Tenggara : Sumbawa;

Maluku : P. Obi, Roti, Ambon dan sekitarnya.

  1. Siganus spinuspenyebarannya di :

Sumatera : Bengkulu, Padang, Tapak Tuan;

Jawa : P. Serinu, Pacitan, Karang Bolong, Prigi;

Sulawesi : Ujung Pandang. Bajo, Manado;

Nusa Tenggara, Timor;

Bali;

Maluku dan sekitarnya.

  1. Siganus vermiculatuspenyebarannya di :

Sumatera : Bengkulu, Padang, Sibolga, Nias;

Jawa : P. Seribu, Semarang;

Kalimantan : Balik Papan dan Sundakan;

Sulawesi : Ujung Pandang, Bulukumba, Manado, Sangihe;

Maluku : Halmahera, Morotai, Ternate, Bacan, Ambon;

Nusa Tenggara, Timor.

  1. Siganus puelluspenyebarannya di :

Jawa :P. Seribu;

Sulawesi : Ujung Pandang;

Maluku dan sekitarnya.

  1. Siganus javus penyebarannya di :

Sumatera : Deli, Sibolga, Bengkulu, Bangka, Belitung;

Jawa : Jakarta, Cirebon, Semarang, Jepara, Surabaya,

Pasuruan, madura;

Kalimantan : Stagen, Balik Papan;

Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo.

  1. Siganus lineatuspenyebarannya di :

Maluku : Ternate, Morotai, Ambon dan sekitarnya.

  1. TEKNOLOGI BUDAYA

1) Persyaratan Lokasi Budidaya

Untuk mencapai produksi jenis komoditas budidaya laut secara optimal

memerlukan kecermatan dalam penentuan lokasi budidaya yang akan

dikembangkan serta kecocokan metoda yang digunakan. Dalam hal ini,

pemilihan lokasi untuk budidaya ikan di laut harus akan mempertimbangkan

dari aspek teknis dan non teknis.

Dari segi aspek teknis hal-hal yang harus diperhatikan meliputi:

  1. Perairan/lokasi yang dipilih harus terlindung dari pengaruh angin/musim

dan gelombang, hal ini untuk mengamankan/melindungi salinitas

budidaya.

  1. Pergerakan air harus cukup baik dengan kecepatan arus antara 20 ~ 40

cm/detik, apabila kecepatan arus kurang mengakibatkan penyediaan air

kurang dan O2 yang di supplay juga akan berkurang dan sebaliknya

apabila kecepatan arus cukup besar pertumbuhan ikan akan terganggu

sebab energi yang didapatkan dari makanan banyak keluar untuk

melawan arus.

  1. Lokasi harus bebas dari pengaruh pencemaran atau polusi baik limbah

industri maupun limbah rumah tangga.

  1. Lokasi juga harus bebas dari hama yang meliputi antara lain ikan-ikan

besar dan buas, binatang yang selain potensial dapat mengganggu

(predator).

  1. Hal yang sangat penting lokasi harus memenuhi persyaratan kualitas air

yang baik untuk pertumbuhan ikan seperti :

– Kadar garam berkisar antara 27 ~ 32 ppt.

– Suhu air berkisar antara 28 ~ 320C.

– O2 (oksigen) berkisar antara 7 ~ 8 ppm.

– Nitrat 0,9 ~ 3,2 ppm dan phospat 0,2 ~ 0,5 ppm.

  1. Untuk mempermudah kelancaran kegiatan yang berhubungan dengan

usaha budidaya yang meliputi sarana jalan, telpon, listrik, sumberdaya

manusia, pakan, pasar, ketersediaan bimbingan harus dalam jumlah yang

cukup memadai serta bahan-bahan untuk komoditi budidaya mudah

diperoleh.

Sedangkan aspek dari aspek non teknis harus memperhatikan sektor-sektor

yang berkaitan dengan kebijaksanaan penggunaan lahan dalam hubungan

dengan kepentingan sektor lain seperti pariwisata, pelayaran, dll.

2) Sarana produksi

Metoda budidaya ikan beronang di laut dapat dilakukan dengan metoda

Karamba Jaring Apung (KJA) yaitu wadah atau tempat budidaya ikan yang

terbuat dari bahan jaring yang digantungkan pada kerangka (rakit) di laut.

  1. Desain Konstruksi Keramba Jaring Apung

Keramba Jaring Apung terdiri dari komponen rakit apung, kurungan,

pelampung dan jangkar. Cara pembuatan masing-masing komponen

tersebut adalah sebagai berikut:

– Rakit Apung

Pembuatan rakit apung dapat dilakukan di darat dengan terlebih dahulu

membuat kerangka sesuai dengan ukuran yaitu 8 x 8 m. Kerangka ini

berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan yang berbentuk segi

empat dan terbuat dari bahan bambu atau kayu.

Setiap unit kerangka dapat terdiri dari 2 atau 4 kurungan tetapi secara

ekonomi setiap unti dianjurkan sebanyak 4 (empat) buah kurungan.

Kerangka ditempatkan di lokasi budidaya dengan diberi jangkar

sebanyak 4 buah agar tetap pada tempatnya atau tidak terbawa arus.

Gambar 1. Kerangka Rakit

– Kurungan

Kurungan berfungsi sebagai wadah pemeliharaan ikan yang terbuat

dari bahan polyethilen (PE) D. 18 dengan lebar mata jaring antara 0,75

~ 1″. Bentuk kurungan disesuaikan dengan bentuk kerangka rakit yaitu

empat persegi dengan ukuran 3 x 3 x 3 m3. Jaring apung yang telah

siap dibuat di pasang pada kerangka rakit dengan cara mengikat ke

empat sudut bagian atas pada setiap sudut kerangka. Pola pembuatan

kurungan dan cara pengikatan dapat dilihat pada gambar 2 dan gambar

3 dan agar kerangka jaring apung tetap terbentuk bujur sangkar, maka

pada sudut bagian bawah jaring diberi pemberat.

Gambar 2. Pola Pembuatan Kurungan Apung

Gambar 3. Cara Pengikatan Jaring

Gambar 4. Kurungan Telah Dipasang pada Rakit

– Pelampung

Untuk mengapungkan sarana budidaya termasuk rumah jaga

diperlukan pelampung. Pelampung dapat digunakan drum plastik

volume 200 liter. Dan untuk menahan rakit diperlukan pelampung

sebanyak 12 buah. Pelampung diikat dengan tali polyethelene (PE)

yang bergaris tengah 0,8 ~ 1,0 cm.

Gambar 5. Penempatan dan Pemasangan Pelampung Pada Kerangka Rakit

– Jangkar

Jangkar berfungsi untuk menahan sarana budidaya agar tidak bergeser

dari tempatnya akibat pengaruh arus dan angin ataupun gelombang.

Setiap inti keramba jaring apung dipergunakan jangkar 4 buah yang

terbuat dari besi dengan berat 50 kg. Panjang tali jangkar biasanya 1,5

kali kedalaman perairan pada waktu pasang tinggi.

Gambar 6 Pengaturan dan Pemasangan Jangkar

  1. Benih

– Persyaratan Benih

Benih yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan dan diseleksi

benih yang betul-betul sehat. Benih yang sakit akan terhambat

pertumbuhannya dan lebih berbahaya lagi adalah penularannya ke ikan

di dalam wadah budidaya.

Berdasarkan pengamatan visual secara umum benih yang sehat antara

lain adalah :

* Bentuk badan normal/tidak cacat/tidak sakit;

* Gerakan ikan lincah;

* Mempunyai respon yang tinggi terhadap pakan yang diberikan.

– Penyediaan Benih

Sampai saat ini benih ikan beronang yang digunakan dalam usaha

budidaya berasal dari hasil penangkapan di alam. Benih ikan beronang

dapat diperoleh dalam jumlah besar pada saat musim puncak benih.

Untuk setiap jenis beronang musim puncaknya akan berlainan setiap

lokasi.

Penyediaan benih ikan beronang secara massal dari hatchery sampai

saat ini masih dalam pengkajian walaupun pemijahan untuk beberapa

jenis sudah berhasil dilakukan.

– Penanganan dan Transportasi Benih

Benih ikan beronan sangat peka terhadap perubahan lingkungan

seperti suhu dan salinitas, sehingga penanganan benih ikan beronang

sangat perlu dijaga hati-hati.

Pada saat pemindahan benih dari suatu wadah ke wadah lain harus

selalu diambil bersama airnya. Pemindahan benih dapat dilakukan

sehari setelah pengumpulan dan cukup memberikan istirahat bagi ikan

dan untuk perlakuan selanjutnya disarankan untuk menggunakan seser

yang tidak cekung untuk menghindarkan luka-luka di kulit akibat

persentuhan benih satu sama lain.

Pengangkutan benih ikan beronang untuk jarak dekat dapat digunakan

keramba dengan anyaman bambu yang halus dan diapungkan di air.

Keramba diseret perlahan-lahan menuju tempat budidaya. Dan untuk

jarak jauh dapat digunakan kantong-kantong plastik atau periuk-periuk

tanah.

Benih ikan beronang dengan perlakuan baik dan aklimasi yang cukup

dapat ditransportasi sampai maksimum 48 jam.

  1. Pakan

– Persyaratan Pakan

Salah satu faktor yang sangat penting menentukan pertumbuhan ikan

yang dipelihara adalah faktor ketersediaan pakan yang cukup baik

kualitas maupun kuantitas sehingga harus diperhatikan sebaik-baiknya

yaitu harus memenuhi komposisi dan jumlah nutrient/zat makanan yang

dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan. Pakan yang diberikan sebaiknya

yang masih baru (pellet) dan segar (ikan rucah).

– Penanganan Pakan

Untuk menjaga kualitas pakan yang diberikan untuk budidaya ikan

beronang perlu diperhatikan penanganan terhadap pakan yang

digunakan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan pakan

antara lain adalah tempat penyimpanan pakan harus bersih dan kering.

3) Teknologi Budidaya

  1. Pola Produksi

Dalam usaha budidaya ikan laut pengaturan pola tanam perlu disesuaikan

dengan ketersediaan seperti (benih, pakan) dan pengaruh dari musim

serta ketersediaan pasar. Untuk itu dalam kegiatan budidaya ikan di laut

setiap lokasi akan berbeda sesuai dengan kondisi setempat.

Dalam pengaturan pola tanam yang berhubungan daya serap pasar

alternatif pola tanam adalah setiap KK adalah melakukan penanaman

pada 1 unit karamba jaring apung yang terdiri dari 4 buah jurungan dan

penebaran benih dapat dilakukan selang 3 hari – 1 minggu setiap KK atau

tergantung dari daya serap pasar.

  1. Cara Penebaran Benih

Benih sebelum ditebarkan perlu diaklimasikan terlebih dulu, kemudian

secara perlahan-lahan ditebarkan ke dalam wadah budidaya. Penebaran

benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.

  1. Cara Pemberian Pakan

Jenis pakan yang digunakan pada budidaya ikan beronang adalah pellet

kering dengan jumlah sebanyak 2% dari berat badan ikan setiap hari.

Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan

sore hari.

Konversi pemberian pakan dengan menggunakan pellet biasanya 1 : 4

yang berarti untuk memperoleh berat ikan 1 kg dibutuhkan pellet

sebanyak 4 kg.

  1. Penanganan Hasil

Panen ikan beronang dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 ~ 6 bulan

setelah penebaran. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

– Panen sebagian, dilakukan dengan cara memanen ikan yang telah

berukuran tertentu tergantung kebutuhan pasar dengan menggunakan

serok/lampit/alat angkap.

– Panen seluruhnya, dilakukan dengan cara memanen hasil budidaya

sekaligus dengan cara menarik/mengangkat sebagian jaring ke arah

suatu sudut sehingga akan terkumpul pada suatu tempat dan kemudian

diambil dengan menggunakan serok/lambit/alat tangkap dengan

berhati-hati agar ikan tidak mengalami luka/cacat. Panen sebaiknya

dilakukan pada saat udara sejuk.

4) Manajemen Budidaya

Permasalahan yang sering ditemui pada pemeliharaan ikan di laut dengan

jaring apung adalah pengotoran/penempelan oleh organisme penempel pada

sarana yang digunakan seperti kerangka, rakit, kurungan apung dan

pelampung. Penempelan organisme tersebut akan mengganggu pertukaran

air dan menyebabkan kurungan bertambah berat.

Untuk menanggulangi organisme penempel ini maka perlu dilakukan

pembersihan terutama kurungan secara periodik paling sedikit 1 bulan sekali

atau tergantung pada banyak sedikitnya organisme penempel. Sedangkan

untuk pembersihan kurungan dilakukan dengan menyikat atau dengan

menggunakan mesin semprot jaring.

5) Hama dan Penyakit

  1. Hama

Hama yang sering mengganggu budidaya ikan beronang laut adalah

berupa hewan/binatang atau pengganggu lainnya seperti burung dan

lingsang. Hama dapat menyerang dan membuat kerusakan pada

kurungan ikan. Penanggulangan hama dapat dilakukan dengan cara

menutup bagian atas kurungan dengan jaring serta memagar/melingkari

kurungan. Selain itu gangguan karena pencurian oleh manusia perlu juga

diwaspadai.

  1. Penyakit dan Pencegahannya

Untuk mengetahui jenis penyakit dan cara pencegahannya diperlukan

diagnosa gejala penyakit. Gejala penyakit untuk ikan yang dibudidayakan

dapat dilihat/diamati dengan tanda-tanda sebagai berikut :

– Ada kelainan tingkah laku : salah satu atau beberapa ikan keluar dari

kelompoknya dan cara berenangnya miring atau “driving” (ikan yang

berada di permukaan langsung menuju dasar dengan cepat). Gejala

demikian biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit, antara lian :

penyakit insang, penyakit sistem saraf otak, keracunan bahan kimia

logam berat, dan kekurangan vitamin.

– Ikan tidak mau makan : perhatikan sudah berapa lama keadaan ini

terjadi, penyebabnya adalah : penyakit diabetes (oxydized fatty),

kelebihan mineral yang berasal dari pakan dan kebosanan yang terjadi

karena persediaan pakan sedikit.

– Ada kelainan pada bentuk ikan : hal ini terjadi pada rangka ikan dan

permukaan tubuh ikan.

– Mata tidak normal : disebabkan oleh bakteri dan parasit tremotoda

Giganea sp.

Untuk organ tubuh bagian dalam gejala penyakit dapat terjadi pada :

Insang : Hilang beberapa bagian, disebabkan kekurangan darah dan

keracunan, atau parasit yang berupa ciliata dan monogenik.

Otak : Terjadi pendarahan dan TBS, disebabkan oleh parasit

Myxosporadia, Giganea sp, Streptococcus sp, dan Nocardia

sp.

Jantung : Menjadi tebal dan membesar, disebabkan oleh bakteri klas

Mycospradia, membran jantung membesar karena diserang

bakteri Streptococcud spp.

Hati : Membesar atau mengecil, warna hijau/kuning, disebabkan

oleh perubahan kadar lemak (fatty change liver desease).

Jamur yang berasal dari pakan yang terkontaminasi dapat

menyebabkan hati mengalami pendarahan, keras, mudah

pecah.

Lambung : Menjadi kembung, luka dan berlobang, disebabkan oleh

parasit yang termasuk klas Cestoda.

Usus : Luka, pendarahan, keluar dari anus dan vibriosis,

disebabkan oleh parasit dalam klas Nematoda, Trematoda,

Cestoda dan Acanthocephala.

Limpa : Menjadi besar/kecil dan kekurangan darah, disebabkan oleh

adanya penyakit di bagian lain.

Otot : Warna tidak jelas/putih, terjadi pendarahan, disebabkan oleh

bakteri Nacordia sp atau serangan parasit Microsporidae.

  1. Penanganan Ikan Sakit

Penanganan terhadap ikan sakit dapat dibagi atas dua langkah yaitu :

– Berdasarkan teknik budidaya :

Tindakan-tindakan yang dilakukan antara lain adalah :

* Menghentikan pemberian pakan pada ikan;

* Mengganti makanan dengan jenis lain;

* Mengkelompokkan ikan menjadi kelompok-kelompok yang

kepadatannya/ densitasnya rendah;

* Bila mungkin ikan-ikan dipanen, daripada menjadi wabah bagi ikan

yang lain.

– Berdasarkan terapi kimia :

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah :

* Memeriksa kepekaan dari masing-masing obat yang akan

digunakan;

* Memeriksa batas dosis yang aman untuk masing-masing obat agar

tidak terjadi “over dosis“;

* Menjaga agar obat tidak terkontaminasi oleh bakteri;

* Memperhatikan keterangan yang dikeluarkan oleh pabrik obat

tersebut.

  1. Cara Pemberian Obat

Cara pemberian obat yang akan digunakan dapat ditentukan sendiri

dengan memperhatikan bentuk obat, jumlah ikan yang terkena penyakit,

kondisi dan sarana yang dimiliki di lapangan (tempat budidaya).

Ada beberapa cara pemberian obat yang dapat digunakan, yaitu :

– Ditenggelamkan dalam tempat budidaya;

– Disebarkan pada permukaan;

– Dicampurkan dalam pakan;

– Dengan cara injeksi.

Pada ikan beronang biasanya banyak kedapatan parasit jenis

monogenetik trematoda pada bagian insangnya, parasit ini dapat

dilepaskan dengan mengunakan “dipterex” (organoposfat, sinonim : Dylox,

Masoten, Neguvon) dengan dosis sebesar 30 ppm selama 8 – 16 m enit

dan 50 ppm selama 4 – 5 menit. Percobaan ini hasilnya positif, dengan

tingkat kematian ikan beronang sampai 0%.

Waktu dan dosis obat yang diberikan perlu diperhitungkan dengan hatihati

agar tidak terjadi kelebihan dosis yang dapat mengakibatkan

kematian pada ikan. Oleh karena itu perlu diketahui berapa jumlah dosis

yang digunakan. Di bawah ini diberikan beberapa dosis yang mematikan

terhadap beberapa jenis ikan beronang.

Tabel 4. Dosis Dipterex yang mematikan terhadap beberapa jenis ikan beronang

(Tanaka dan Basyari, 1982).

No. Jenis Ikan Panjang Total Rata-rata (cm) Konsentrasi

Dipterex (ppm)

Waktu

(menit)

1 S. canaliculatus 3 30 39
2 S. canaliculatus 8-12 50 9
3 S. guttatus 3 30 49
4 S. guttatus 5-8 50 9
5 S. javus 3 50 4
6 S. javus 3 30 28
7 S. javus 9-11 50 9
8 S. javus 15 30 15
  1. Pencegahan penyakit

Untuk mencegah agar ikan yang dibudidayakan tidak terkena penyakit

dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :

– Menjaga kebersihan tempat budidaya;

– Menjaga lingkungan/tidak tercemar oleh limbah industri dan bahanbahan

kimia pertanian;

– Memeriksa jenis pakan yang akan diberikan dan hindarkan kontaminasi

jamur;

– Lakukan vaksinasi bagi ikan yang sehat.

Baca Artikel Lainnya: