Alat-Alat Transportasi

Alat-Alat Transportasi

Alat-Alat Transportasi

Alat-Alat Transportasi
Alat-Alat Transportasi

Manusia adalah makhluk yang selalu bergerak, baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh. Keinginan untuk melakukan perjalanan dan kembali ke pemukimannya secara cepat dan efesien mendorong manusia menciptakan alat-alat transportasi. Alat-alat ini diciptakan bertahap, mulai dari alat yang sederhana, seperti rakit dan gerobak hingga alat yang berteknologi tinggi, seperti mobil, sepeda motor, dan pesawat terbang.

Pada zaman ini, mobil dan sepeda motor tidak hanya dipakai sebagai alat transportasi tetapi juga alat rekreasi dan olahraga. Selain itu, alat-alat transportasi, ini juga bisa menjadi tanda kelas sosial seseorang. Semakin tinggi kelas sosial seseorang, makin mahal dan mewah alat transportasinya.

Sistem Mata Pencaharian
Saat ini, mata pencaharian manusia sangatlah beragam. Beberapa sistem mata pencaharian yang dikenal masyarakat adalah sebagai berikut.

Berburu dan Meramu
Berburu dan meramu merupakan jenis mata pencaharian masyarakat yang paling tua. Sistem mata pencaharian berburu dilakukan langsung dengan cara menangkap dan mengkonsumsi hewan-hewan hasil buruan. Meramu dilakukan dengan cara mengambil dan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan secara langsung.

Pada zaman dahulu, selain menggunakan teknik-teknik berburu konvensional seperti dengan tombak, kegiatan perburuan juga menggunakan ilmu gaib, seperti dengan upacara-upacara tertentu. Pada zaman itu, perburuan dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari anggota keluarga sendiri. Kelompok dipimpin oleh seseorang yang memang dipilih untuk memimpin aktivitas ini. Pembagian hasil buruan didasarkan status atau peran seseorang dalam kelompok tersebut. Seorang pemimpin kelompok tentu mendapat bagian yang lebih banyak daripada anggota kelompok lainnya.

Beternak
Peternakan merupakan salah satu mata pencaharian yang diusahakan secara besar-besaran dan terdapat di berbagai daerah. Peternakan dikembangkan di daerah-daerah yang ditumbuhi padang rumput (sabana dan stepa), misalnya di Asia Tengah dan beberapa kawasan di benua Afrika.

Beberapa suku bangsa peternak memiliki sifat yang agresif. Hal ini disebabkan kepentingan mereka untuk secara terus-menerus menjaga keamanan ternak-ternak mereka dari serangan atau pencurian kelompok-kelompok lain.

Umumnya, kelompok-kelompok peternak juga memerlukan kebutuhan lain selain daging dan susu. Mereka juga membutuhkan beras, gandum atau sayur-sayuran. Untuk itu, kelompok-kelompok ini melakukan hubungan dengan kelompok-kelompok lainnya yang bercocok tanam. Mereka melakukan kegiatan tukar menukar atau berdagang. Namun tidak jarang hal itu dilakukan untuk menguasai dan menjajah kelompok-kelompok lain.

Pada zaman dahulu, kegiatan peternakan dilakukan dalam lingkup keluarga. Artinya, seluruh pekerja peternakan tersebut adalah anggota sebuah keluarga. Pada zaman sekarang, aktivitas ini telah berkembang sebagaimana kegiatan ekonomi lainnya. Mereka mempekerjakan orang lain yang dibayar dengan upah tertentu. Selain itu, pemasarannya tidak lagi hanya terbatas pada lingkup desa atau daerah, tetapi juga lintas negara.

Bertani
Pada masyarakat tradisional, pengolahan tanah pertanian masih dilakukan dengan teknologi-teknologi sederhana. Umumnya, lahan pertaniannya sempit dan sangat tergantung pada alam. Hasil pertanian sebagian besar untuk konsumsi sendiri, sedangkan sisanya untuk dijual keperluan lainnya. Umumnya masyarakat pertanian mengenal adanya tuan tanah, petani, dan buruh tani. Tuan tanah adalah pemilik tanah pertanian. Petani adalah orang yang memanfaatkan tanah pertanian, sedangkan buruh tani adalah orang yang dipekerjakan untuk mengolah tanah pertanian.

Pada masyarakat modern, pengolahan tanah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi mutakhir, seperti dengan menggunakan traktor. Bagi dunia pertanian, teknologi berguna untuk menghasilkan panen yang berlipat ganda.

Menangkap Ikan
Menangkap ikan di sungai, danau, atau laut merupakan jenis mata pencaharian yang juga cukup tua selain usaha berburu dan meramu. Menangkap ikan umumnya merupakan usaha sambilan di samping bercocok tanam. Akan tetapi lambat laun beberapa kelompok masyarakat menjadikannya sebagai usaha utama sebagaimana para nelayan atau masyarakat pesisir saat ini.

Pada masyarakat tradisional, kegiatan menangkap ikan umumnya dilakukan dengan teknologi yang sangat sederhana. Mereka umumnya hanya menggunakan jala kecil dengan perahu dayung, perahu layar, atau dengan perahu bermesin kecil. Mereka umumnya menangkap ikan tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hasil tangkapan mereka umumnya sedikit dan sebagian besar untuk konsumsi sendiri.

Baca Juga :