4 Pendapat dalam Mengkompromikan Hadits

4 Pendapat dalam Mengkompromikan Hadits

4 Pendapat dalam Mengkompromikan Hadits

4 Pendapat dalam Mengkompromikan Hadits
4 Pendapat dalam Mengkompromikan Hadits

Sementara itu, ‘Ajjaj al-Khathib menyimpulkan, ada empat pendapat yang bervariasi dalam rangka mengkompromikan dua kelompok Hadits yang terlihat saling bertentangan dalam hal penulisan Hadits Nabi SAW tersebut, (‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 150-152) yaitu:

Pertama

menurut Imam Bukhari, Hadits Abu Sa’id al- Khudri di atas adalah Mawqufy dan karenanya tidak dapat untuk dijadikan dalil.( Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari. jilid 1, h 218). Tetapi, pendapat ini ditolak, sebab menurut Imam Muslim Hadits tersebut adalah Shahih dan hal ini diperkuat oleh Hadits Abu Sa’id yang lain:
Dari Abu Sa’id r.a. dia mengatakan, “Saya meminta izin kepada Nabi SAWuntuk menuliskan Hadits, maka beliau enggan untuk memberiku izin.” (Al-Baghdadi, Taqyidal-‘Ilm, h. 32-33.)

Kedua

bahwa larangan menuliskan Hadits itu terjadi adalah pada masa awal Islam yang ketika itu dikhawatirkan terjadinya percampuradukan antara Hadits dengan Al-Qur’an. Tetapi, setelah umat Islam bertambah banyak dan mereka telah dapat membedakan antara Hadits dan Al-Quran, maka hilanglah kekhawatiran itu dan, karenanya, mereka diperkenankan untuk menuliskannya. (Muhammad ibn Isma’il al-Shan ani, Taudhih al-Azkar li Ma ani Tanqih al-Anzar (Kairo: Al-Khanji, 1366 H), jilid 2. h. 353-354. Ibid. h. 354) Sejalan dengan pendapat ini, bahwa larangan tersebut berkenaan dengan menulis Hadits dan Al-Qur’an dalam lembaran yang sama, karena mungkin mereka menuliskan ta’wil yang diberikan Nabi SAW menjadi satu dengan ayat sehingga dikhawatirkan terjadinya percampurbauran antara keduanya.

Ketiga

Larangan tersebut ditujukan terhadap mereka yang memiliki hafalan yang kuat sehingga mereka tidak terbebani dengan tulisan; sedangkan kebolehan diberikan kepada mereka yang hafalannya kurang baik seperti Abu Syah.

Keempat

larangan tersebut sifatnya umum, sedangkan kebolehan menulis diberikan khusus kepada mereka yang pandai membaca dan menulis sehingga tidak terjadi kesalahan dalam menuliskannya, seperti Abd Allah ibn Amr yang sangat dipercaya oleh Nabi SAW. (Ibn Qutaybah Ta’wil Mukhtalif al-Hadits; Mesir: Mathba’ah Kurdistan al-‘Ilmiyyah, 1326, h. 365-366)

Ajjaj al-Khathib memberikan kesimpulan tentang perbedaan pendapat di atas, sebagai berikut: pendapat pertama yang mengatakan bahwa Hadits Abu Sa’id al-Khudri sebagai Mauquf adalah ditolak, karena ternyata Hadits tersebut adalah Hadits Shahih , dan dengan demikian dapat dijadikan dalil.

Ketiga pendapat

Sedangkan ketiga pendapat berikutnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
Larangan Nabi SAW mengenai menuliskan Hadits dan Al-Qur’an dalam lembaran yang sama sehingga dikhawatirkan terjadinya percampuradukan antara keduanya, adalah logis dan dapat diterima. Demikian juga halnya dengan larangan tersebut pada masa awal Islam dengan maksud agar umat Islam tidak disibukkan dengan menulis Hadits sehingga mengabaikan Al-Qur’an. Kemudian Nabi SAW memperkenankan menuliskannya bagi mereka yang bisa membedakan antara Al-Qur’an dan Hadits, sehingga tidak terjadi percampur adukkan antara keduanya, dan bagi mereka yang kurang kuat hafalannya agar Hadits tersebut tidak hilang dari ingatan mereka. Dengan demikian, ketika umat Islam sudah bisa menghafal dan memelihara Al-Qur’an serta dapat membedakannya dari Hadits Nabi SAW, maka larangan menuliskan Hadits pun berakhir dan karenanya untuk masa selanjutnya diperbolehkan menuliskannya.(‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 152-153).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/