100 Hari Jokowi: Nadiem dan Otak-atik Sistem Pendidikan

100 Hari Jokowi Nadiem dan Otak-atik Sistem Pendidikan

100 Hari Jokowi: Nadiem dan Otak-atik Sistem Pendidikan

100 Hari Jokowi Nadiem dan Otak-atik Sistem Pendidikan
100 Hari Jokowi Nadiem dan Otak-atik Sistem Pendidikan

Salah satu keputusan Presiden Jokowi menuai kontroversi adalah memilih seorang Nadiem Makarim

menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Keputusan ini bisa dibilang mengejutkan karena biasanya sosok Mendikbud yang dipilih memiliki latar belakang pendidikan serta ormas tertentu.

Ternyata Jokowi mengharapkan banyak terobosan out of the box dari Nadiem di dunia pendidikan Indonesia. Harapan ini sedikit banyak terjawab dalam 100 hari Jokowi memerintah meski implemetasi masih jauh dari sempurna.
Saat menjelaskan alasannya memilih Nadiem, Jokowi menginginkan Nadiem mengelola ribuan sekolah dan pelajar melalui teknologi.
“Kita bayangkan mengelola sekolah, mengelola pelajar, manajemen guru sebanyak itu dan dituntut oleh sebuah standar yang sama. Nah, kita diberi peluang setelah ada yang namanya teknologi aplikasi sistem yang bisa mempermudah membuat loncatan, sehingga hal-hal yang dulu dirasa tak mungkin sekarang menjadi mungkin. Itu kenapa dipilih Mas Nadiem,” ujar Jokowi di Istana Merdeka, Kamis (24/10).

Setelah dilantik, kebijakan yang ditelurkan Nadiem memang terkesan out of the box

. Ada dua program besar yang diterbitkan Nadiem Makarim. Pertama, Konsep Merdeka Belajar untuk siswa SD-SMA kemudian Konsep Kampus Merdeka, alias Merdeka Belajar untuk perguruan tinggi. Lalu apa arti dua konsep ini?

Merdeka Belajar untuk siswa SD-SMA

Nadiem Makarim rapat dengan Komisi X
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat menghadiri Rapat kerja komisi X DPR RI, Selasa (28/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Ada 4 konsep utama yang menjadi fokus dalam konsep Merdeka Belajar. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah penghapusan Ujian Nasional. Berikut 4 konsep utama Merdeka Belajar:
Penghapusan Ujian Nasional
Dalam konsep Merdeka Belajar bagi siswa SD-SMA, Nadiem menghapus ujian nasional sebagai indikator kelulusan. UN di tahun 2020 akan menjadi yang terakhir. Mulai 2021, UN diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Inilah yang akan menjadi indikator kelulusan.
Nadiem menjelaskan ada alasan fundamental di balik penghapusan UN. “Jadi prinsipnya, bukan wacana mengapus-hapus.Ini juga wacana memperbaiki esensi dari UN itu sebenarnya apa, untuk menilai prestasi murid atau menilai prestasi sistem?” jelas Nadiem.
Sembari menunggu sistem pengganti UN diberlakukan pada 2021 mendatang, Nadiem juga membuat sedikit perubahan di UN 2020. Jika sebelumnya soal ujian berasal dari pusat, kini ujian akan digelar oleh sekolah.
ADVERTISEMENT
UN 2020 bertujuan menilai kompetensi siswa dengan tes tertulis dan tes lainnya yang lebih komprehensif seperti portofolio dan penugasan (tugas kelompok, karya tulis, dan lainnya). Dengan cara itu, Nadiem menilai, guru dan sekolah bisa lebih merdeka dalam memberikan penilaian hasil belajar siswanya.

 

Baca Juga :